Senin, 01/10/2007
09:17
sejarah andalan vs
sejarah rakitan
Ada
yang ditoreh dengan tinta emas, ada yang ditarik dari peredaran. Terkadang
pelaku sejarah bisa memanipulasi sejarah, tak jarang yang hanya sebagai saksi
bisu. Sejarah entah berantah dan termungkin sejarah yang tak bisa diperbarui.
Bangsa
ini memang dibenarkan dan dibesarkan oleh sejarah. Sejarah andalan dimulai dari
banyaknya kerajaan sampai Sumpah Palapa Patih Gadjah Mada. Keinginan untuk
bersatu sebagai modal dasar kemerdekaan dengan puncaknya Sumpah Pemuda 1928.
Proklamasi Kemerdekaan NKRI 17 Agustus 1945 sampai pergerakan, pergolakan satu
babak kepemimpinan nasional Super Semar 1966 utawa Pancasila Sakti.
Lengser
keprabon Mr. Soeharto dihiasi merebaknya KKN sampai pelosok wilayah
administrasi dan seolah menjadi lagu wajib para penyelenggara negara.
Penggundulan hutan secara sistematis seolah menjadi tradisi, penggelembungan
hutang luar negeri yang nyaris tak terbayar sampai 7 (pitu) turunan, penjajahan
bangsa dewe melalui peredaran dan transaksi narkoba (benar-benar konyol dan
berbahaya) sampai perilaku korupsi akibat mengkonsumsi babi.
Di
Cina, sebagai penghalal babi, korupsi mempunyai sanksi hukum yang jelas, tegas
dan dilaksanakan tuntas. Sejarah rakitan, tergantung siapa yang merakitnya.
Analog manusia Nusantara merakit partai politik untuk mengisi sejarah.
Lagi-lagi parpol, mumpung puasa (hn).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar