Halaman

Jumat, 28 Agustus 2015

negara multipartai vs negara multikrisis

negara multipartai vs negara multikrisis

Anak bangsa yang berkategori rakyat jelata, wong cilik, warga negara klas tiga, keluarga pra-sejahtera, penduduk melarat bin miskin, masyarakat papan bawah, masyarakat berpenghasilan rendah, sudah bisa dan terbiasa kencangkan ikat pinggang di zaman Orde Baru. Di periode 2014-2019, perut rakyat menjadi tabung reaksi kemandirian pangan berbasis bahan baku impor.

Daya tahan rakyat sudah teruji menghadapi berbagai krisis atau multikrisis bahkan sampat tingkatan darurat. Krisis ekonomi sampai darurat gizi sudah menjadi menu harian,  krisis hukum sampai darurat Cicak vs Buaya sudah terbiasa menjadi kambing hitam, krisis politik sampai darurat Reformasi jilid 2 hanya dibutuhkan saat hari-H pesta demokrasi.

Ironis, para segelintir elit partai, seolah sudah kebal berbagai krisis, sehingga daya tanggap, kepekaan dan kepedulian terhadap nasib bangsa dan negara menjadi semakin tumpul, majal.

Akankah karena partai politik (parpol) didirikan sekedar bisa ikut pesta demokrasi lima tahunan, sekedar memenuhi syarat demokrasi, bukan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat, hasilnya banyaknya parpol identik dengan banyaknya krisis.[HaeN]

revolusi mental Nusantara, negara terjun bebas vs negara autopilot


Aroma irama kefasikan media massa di era SBY, entah diperiode 2004-2009 atau 2009-2014, dimanfaatkan mentah-mentah oleh oknum pengamat politik atau lembaga survei bayaran, amatiran, mencari sensasi, sesuai pesanan, dengan ilmu hitung mundur. Acara, adegan maupun atraksi di media penyiaran TV, host merasa cerdas dan sarat ilmu membuat pernyataan yang sensasional sekaligus memberondong bintang tamu dengan pertanyaan standar, baku dan dangkal. Tidak beda jauh dengan editorial dengan bintang tamu dari kandang sendiri, sehingga kadar analitisnya beraliran menghujat sekaligus menjilat. Bangga bisa mengunakan istilah ‘negara terjun bebas’, bangga mengungkapkan kata ‘negara autopilot’.

Aroma irama kefasikan media massa di era pasca SBY, tepatnya periode 2014-2019, mencapai klimaks, titik nadir atau titik kritis. Ahli fasik yang berhasil mendukung jagonya berhasil disumpah jadi presiden/kepala negara, bukan tanpa pamrih. Berbagai skenario langsung beredar dan jalan sesuai skenario dukungan, relawan dan politik balas jasa. Selain kebagian kursi kekuasaan, berharap jatah uang negara melalui pengadaan barang/jasa pemerintah berbasis aturan e-procurement yang bisa diatur. Lengkap sudah dayab tarik berhala Reformasi 3K (kuasa, kuat, kaya). Negara, selain dianggap sebagai warisan, masa depannya sudah digadaikan secara sistematis, masif, berkelanjutan, tanpa tedeng aling-aling, tanpa mengenal malu.

Akhir kata, semester pertama atau tahun pertama 2014-2019, ilmu hukum, ilmu politik, ilmu ekonomi tak berdaya menghadapi kenyataan hidup. Bukan juga salah penyandang ilmu dalam melaksanakan tugas fungsi sebagai penyelenggara negara. Kalau sudah begini dan begitu, perlu doa, aksi teatrikal, pembacaan puisi dan orasi ilmiah massal tolak bala. Diimbangi rawatan dan ruwatan Nusantara. [HaeN]

Kamis, 27 Agustus 2015

langkah blusak-blusuk Joko Widodo terganjal, terjegal, terpenggal rambu-rambu politik


Aroma irama politik dampak nyata perjanjian politik di pesta demokrasi 2014, masih akan mewarnai, menghantui sekaligus mendominasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat yang terbiasa kencangkan ikat pinggang di era Orde Baru sampai perut menjadi tabung reaksi kemandirian dan ketahanan pangan Nusantara, akan tetap eksis di bawah tekanan politik dan huru-hara politik di elit kawanan parpolis.

Aroma irama politik ekses nyata politik transaksional, ideologi berbasis nilai tukar Rp, masih menjadi lagu wajib dalam mewujudkan program nasional Trisakti dan Nawa Cita. Jabatan karir disamarkan, dibaurkan, diabu-abukan dengan jabatan politik. Jabatan duta besar atau wakil bangsa negara di mancanegara, seolah menjadi jabatan balas jasa.

Aroma irama politik akibat kebijakan bandar politik yang harus dianut, diemban sekaligus dilaksanakan tanpa banyak tanya sebagai tanda loyalitas total. Negara bisa terjun bebas, negara boleh dengan autopilot, negara mengalami krisis dan defisit negarawan tetapi surplus kader karbitan/orbitan, asal jangan negara dianggap sebagai warisan dari nenek moyangnya.

Aroma irama kejawen Joko Widodo ternyata kalah ampuh, kalah jitu, kalah manjur, kalah mujarab, kalah cespleng dengan mantra politik yang dirapalkan, dihembuskan oleh barisan atau kawanan parpolis dengan modal berani malu. Yang mengandalkan aroma irama terapi politik. [HaeN]

semangat ASEAN, bom Bangkok vs kinerja Densus 88


Sebuah ledakan besar terjadi di kuil Erawan di distrik Chidlom di pusat kota Bangkok, Thailand hari ini (17/08). Ledakan itu terjadi pada pukul 7 malam waktu setempat. Lokasi ledakan terjadi di perempatan Rajprasong yang merupakan pusat demonstrasi politik dalam beberapa tahun terakhir.

Koresponden BBC menyebutkan bahwa kuil ini merupakan kuil terkenal, berlokasi di sisi sebuah hotel berbintang lima. Serangan dengan bom seperti ini jarang terjadi di ibukota Thailand tersebut.

Kepala polisi Prawut Thavornsiri yang dikutip kantor berita AFP menyatakan bahwa ledakan itu disebabkan oleh bom. "Saya bisa memastikan itu adalah ledakan bom, tetapi kami belum bisa katakan apa jenisnya. Kami masih melakukan penyelidikan," katanya. (sumber : laman BBC.com 17 Agustus 2015)

BANGKOK - Juru bicara kepolisian Thiland, Prawuth Thavornsiri mengatakan, ahli peledak yang meneliti residu dari bom Bangkok menyatakan, bahan yang ditemukan memiliki bau seperti TNT, meski mereka belum menerima hasil tes kimia.

Thavornsiri mengatakan, hingga saat ini belum diketahui secara pasti jenis bom yang digunakan pelaku peledakan bom di kuil Erawan apakah TNT atau C4, atau sebuah bom plastik. "Tapi para ahli penjinak bom percaya jika inti bom tersebut berisi TNT berdasarkan kekuatan ledakan dan baunya," ujarnya seperti dilansir Associated Press, Rabu (26/8/2015). (sumber : laman international.sindonews.com Rabu,  26 Agustus 2015  −  19:07 WIB)

SIMPUL SEDERHANA
Andai pemerintah Thailand tahu langsung betapa daya juang dan kinerja Densus 88 Republik Indonesia, yang gemilang menembak mati calon teroris di TKP, yang gagah perkasa menggerebek sarang teroris sambil ditayangkan langsung oleh media penyiaran TV, yang gagah cerdas menyidik dan menyelidiki rumah terduga teroris untuk mencari bukti nyata.

Jika pemerintah Thailand mengantongi info betapa daya juang dan kinerja Densus 88 Republik Indonesia, mampu mengendus bom rakitan yang disembunyikan calon teroris lokal, atau berhasil melacak ‘benda mencurigakan’ di tempat tak lazim maupun di tempat umum, atau yakin telah mendeteksi gerakan radikal yang mengatasnamakan agama, yang akan berbuat perbuatan anarkis di jalanan.

Misal pemerintah Thailand membaca rekam jejak betapa daya juang kinerja Densus 88 Republik Indonesia, mampu melakukan tindakan preventif, proaktif tanpa pandang bulu, tanpa pandang target, tanpa pandang sasaran sehingga modus operandi serta ruang gerak (calon) teroris bisa dibatasi atau dicegah secara sistematis, masif dan berkelanjutan sejak dini.

Seandainya pemerintah Thailand memanfaatkan pengalaman internasional, patriotisme, daya juang, dan kinerja Densus 88 Republik Indonesia, tanpa harus melalui kerjasama resmi, dimungkinkan kasus Bom Bangkok akan segera terkuak secara terang-benderang.[HaeN]

Rabu, 26 Agustus 2015

revolusi mental negara multipartai, menyederhanakan kebijakan vs menyederhanakan tindakan

revolusi mental negara multipartai, menyederhanakan kebijakan vs menyederhanakan tindakan

Sungguh apes bin sial nasib bangsa ini. Bayangkan, tuah Pancasila di hati anak cucu penggalinya hanya tinggal kenangan manis. Hanya tinggal rasa bangga atas perjuangan nenek moyangnya. Hanya bisa dibangga-banggakan  untuk bahan celotehan yang diliput media massa. Hanya menjadi dogma bahwa negara dianggap sebagai warisan. Hanya sebagai pembenaran bahwa menjadi pengurus negara menjadi hak milik turun-temurun.

Tak heran, beberapa pemulung di kompleks perumahan saya, jauh sebelum azan subuh sudah beraktivitas. Saingan dekat untuk bongkar muat bak sampah cuma anjing atau kucing. Dimeriahkan kawanan tikus berbagai jenis, ukuran badan. Satu bak sampah bisa didatangi beberapa pemulung. Hasilnya, isi bak sampah bisa berhamburan keluar sarangnya. Sampah dapur yang dimasukkan dalam kantong plastik, dibongkar paksa oleh pemulung dengan ganconya. Isinya dikeluarkan sampai ludes.

Ironis, bak sampah yang rumahnya di atas rata-rata, bak sampahnya aman. Isi bak sampah, yang tidak kw2 atau masih layak manfaat, menggunung menungu tukang sampah dari pemkot mengangkutnya berbasis retribusi sampah. Antar bos pemulung seolah sudah ada kebijakan tak tertulis tentang pembagian wilayah kerja. Pembagian waktu pun bisa disepakati untuk ‘daerah basah’. Tidak perlu pasal kerja sama atau MOU. Sudah ada kesepakatan antar waktu, sesama pemulung jangan saling mentung. Sehingga di lapangan kader pemulung tidak rebutan kursi kekuasaan. Diharapkan, pemulung berjuang di pagi buta, pulang sore bawa hasil. Lapak pemulung cukup luas dan bisa menjadi biang polusi lingkungan.

Zaman Orde Lama, kaca menjadi incaran pemulung. Kemajuan teknologi dan dinamika pasar, banyak barang bekas yang bisa dilipat. Tukang loak dengan modal gerobak dan timbangan ikut menyemarakkan aksi pemulung maupun pemungut barang bekas di jalan, di got atau yang menggeletak di mana saja, tak bertuan. Budaya baca diganti gadget, sehingga rumah tangga yang berlangganan surat kabar menjadi berkurang secara sistematis dan sigifikan.

Kreativitas dan daya juang pemulung sejalan dengan kelengahan warga, penghuni rumah. Walau ada yang menjadi pelanggan ibu-ibu rumah tangga yang akan buang alat rumah tangga, atau barang bekas lainnya. Pemulung bisa menjadi multifungsi, bisa menjadi perpanjangan tangan yang multimanfaat.

Pemulung menjadi satu-satunya profesi yang kebal fluktuasi nilai tukar Rp. Yang tidak terpengaruh harga pasaran, malah diuntungkan. Tidak dianggap teroris karena menimbun barang, menunggu harga pasar yang menjanjikan. Menunggu kebutuhan dan permintaan masyarakat yang meningkat.

Jangan heran, partai politik pemenang pesta demokrasi sampai yang didirikan jelang pemilu, modus operandinya serupa tapi tak sewajah dengan oknum pemulung. Bandar politik bisa duduk manis sambil berkipas-kipas bak bos pemulung. Tiap saat terima upeti, setoran dan barang bekas, khususnya dapat kursi kosong, menganggur, tak bertuan. [HaeN]

Selasa, 25 Agustus 2015

pelambatan ekonomi Nusantara vs proses PDI-P rakyat


Tak ayal, presiden Joko Widodo memahami pepatah Jawa yaitu “jalmo tan keno kiniro”. Bisa diartikan bahwa perjalanan hidup manusia dan apa yang akan terjadi kemudian, khususnya bagaimana nasib di masa depannya tidak bisa diraba, diterawang maupun ditebak dengan akal, nalar, dan logika manusia. Memang, ketetapan (takdir) Allah menjadi hak prerogratif-Nya.

Jangan lupa, penjelasan Allah yang dapat kita simak [QS Ar Ra’d (13) : 39] : “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).”

Saya ajak pembaca untuk melihat fakta lapangan, melongok tempat kejadian perkara. Mulai dari pemahaman bagaimana jika akumulasi manusia, komunitas manusia yang terikat teritorial geografis dan batas administrasi berwujud bangsa, apakah ayat tadi berlaku.

Tanpa panjang lebar, Joko Widodo tentu memahami pepatah Jawa “ngunduh wohing pakarti”. Sengaja tidak diartikan secara terang-benderang. Karena ternyata masih ada pepatah Jawa yang terkait dan diminati Jokowi yaitu “ojo lali marang sangkan paraning dumadi”.

Singkat kata, peran Joko Widodo sebagai kepala negara/presiden, tak akan lepas dari ketetapan Allah. Nasib bangsa dan negara seolah dipertaruhkan. Masalahnya, Joko Widodo tidak berkuasa atas dirinya sendiri, karena ada pihak secara politis mengendalikannya. Joko Widodo tinggal melaksanakan kebijakan partai pengusung dan pendukungnya yaitu PDI-P. Jangan heran jika Joko Widodo minta kebijakan jangan dipidana.

Entah siapa yang punya ide, inisiatif bahwa PDI-P merupakan kependekkan dari kondisi yang aktual dan faktual di masyarakat yaitu Penurunan Daya Ingat dan Pendapatan. Huruf ke-4 yaitu ‘P’ tergantung siapa yang berkepentingan dalam menafsirkannya.

‘PDI-P’ apa hubungannya dengan pelambatan ekonomi Nusantara? Justru, uraian di atas bisa menjawab secara sederhana. [HaeN].

Senin, 24 Agustus 2015

Mewujudkan Citra Diri Islam, Dengan Busana Atau Tindakan


Waktu melangkah ke shaf pertama, jelang sholat isya’, saya menyalami jamaah yang sedang duduk berbincang santai. Ada yang menyeletuk : “Mau kemana pak?”.  Pertanyaan ini dan jawaban saya membuat jamaah yang dengar seperti kaget, sambil berguman mengulang penggalan jawaban saya, yaitu : “Dari rumah, mau ke rumah Allah. Reuni dengan sesama hamba Allah. Ini saya mau lapor diri”. Sambil tersenyum saya meninggalkan mereka

Tak salah kalau ada sapaan atau pertanyaan seperti itu. Acap jika sedang berjalan kaki menuju rumah Allah, berjumpa orang menyapa dengan pertanyaan standar, basa-basi, sekedar bertanya : “Mau kemana pak?”. Jawaban saya juga itu-itu saja, yaitu : “Ada yang memanggil”, sambil menunjuk ke atas. Jika pertanyaannya nyaris iseng, saya jawab dengan santai : “Ada pembagian di sana”, sambil menunjuk arah masjid. Ada kalanya sang penanya malah bengong. Kalau yang bertanya mempunyai nama islami atau khususnya sudah bergelar ‘pak haji’, saya jawab melalui bahasa isyarat dengan mengangkat kedua tangan seperti takbir. Berharap si penanya menjadi tersindir. Nyatanya ybs malah tetap cuek, tidak merespon. Ada juga yang menjawab : “Nanti, saya menyusul.” Tak kurang yang senyum sinis.

Pengalaman saya di atas, ternyata mengundang dan mengandung hikmah di luar jangkauan nalar. Kesempatan lain dan di tempat yang berbeda, saat tahlilan di rumah duka, ada seorang bapak menunjuk saya sambil berujar : “Bapak ini sering saya lihat di masjid, orangnya cuek dengan pakaiannya.” Dia sambil lanjut bercerita ke sampingnya. Slentingan ini menjadikan saya mawas diri. Ditambah pengalaman saya selanjutnya, menjadikan saya menulis artikel ini.

Kata jamaah, satu-satunya atribut Islam yang saya punyai yaitu janggut putih, mengimbangi rambut di kepala yang serba putih. Mereka belum pernah melihat saya memakai sarung, baju koko, dsb. Bahkan kopiah pun seperti tak punya. Kalau perlu, ke masjid memakai kaos seminar, kaos sponsor berbagai warna. Bahkan sholat jumat, dengan santai memakai kaos warna hitam.

Kata jamaah, saya dicap sebagai tukang tanya saat kuliah bakda subuh hari sabtu/ahad. Mereka bilang, saya bisa bertanya sesuai tema. Mereka suka kalau ada yang rajin tanya. Memang ironis, jamaah mendengarkan kuliah subuh sambil bersandar di dinding masjid, atau duduk menggerombol dengan yang sudah dikenal atau akrab, seolah kewajiban mereka hanya satu arah sebagai pendengar yang santun. Jarang yang duduk tekun menyimak  di barisan berhadapan langsung dengan penceramah. Gairah jamaah bertambah saat teh hangat beredar, ditambah hidangan ringan dengan menu jarang berubah.

Kata jamaah, karena penampilan, saya menjadi dikenal nama dan orang. Walau saya tidak bisa berlaku sebaliknya, hanya kenal nama, jarang yang saya kenal orang sekaligus namanya. Semakin dikenal, karena kemana-mana saya berjalan kaki dan jalan kaki cepat. Sesekali mereka lihat saya bawa belanjaan. Banyak jamaah atau warga yang menyalip, menawari saya ikut kendaraannya. Kebanyakan saya tolak, kecuali tetangga sekalian bisa ngobrol.

Kata warga, hobi saya sibuk dengan comberan got orang, mengeruk lumpur dan mengonggokkan di pinggir jalan bikin pengguna jalan merasa terganggu, mencabuti gulma di pinggir jalan untuk pengisi jogangan di halaman rumah, bertanam. Dilakukan sembarang waktu. Mubazir, celetuk dan cemooh orang. Satpam bingung, pukul 04:00an mereka kedahuluan memukul tiang listrik, pertanda waktu sekaligus kehadiran mereka. Jika ada acara tingkat RT, saya usahakan hadir. Jika ada bendera kuning, saya upayakan menjenguk sampaikan bela sungkawa, kendati hanya kenal orang.

Jangan lupa, bahwa cara berjalan berkorelasi dengan cara bicara, telah digariskan [QS Luqman (31) : 19] : “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[*] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

[*] Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat. Batasan ‘janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat’ sebagai adab berjalan atau mencontoh cara Rasulullah SAW berjalan. Dalam strata tertentu bisa bersifat universal. Bisa juga dirumuskan berdasarkan berbagai aspek ilmu pengetahuan maupun adat istiadat.

Akhir kata, jika seolah harus memilih dari dua pilihan yang tersedia, biasanya kita memilih kedua-duanya. Artinya, kita memilih berbusana sekaligus bertindak (pikir, ucap dan kelakuan) berdasarkan ajaran agama Islam. Dipadupadankan, dikombinasikan secara sinerji, selaras, serasi, seimbang dan bermartabat. [HaeN].