Halaman

Jumat, 03 September 2021

salah mengelola masalah

 salah mengelola masalah

 Masalah yang seolah menimpa diri. Datangnya dari atah tidak terduga. Digali lebih seksama, akan terbukti bahwa penyebab utama mengapa masalah tertarik pada diri kita. Laku diri berupa daya pikir akal sehat, gaya ujar bebas buka mulut, plus tindak fisik pasang badan alis bahasa tubuh agresif. Potensial lokal menjadi daya tarik datang, masuk, mampirnya aneka masalah. Sekedar iseng sampai tertantang jajal ilmu lain guru.

 Dimulai dari hal kecil, semacam salah ucap, keliru pilih kata ujaran, asal cuap tidak melihat lawan bicara. Biasa dimanja gadget alias gawai. Tidak pakai tatap muka, nyali diri berlipat di atas perikehewanan. Semakin beringas lihat tangkringan plus tongkrongan penyelenggara negara malah gemar cari gara-gara. Multipartai kian unjuk gigi, unjuk diri tanpa sungkan bikin masalah sebelum waktunya.

 Saatnya rakyat angkat bambu runcing, jangan sekedar main mural di dinding, pagar, tembok milik negara. Malah dianggap tidak bermoral. Beraninya cuma sebegitu. Jadi masalaha bangsa kian nyata, ketika ada masalah global, internasional ikut campur tangan. Tampak siapa yang berani main salah-salahan tanpa merasa bersalah, secara norma dan moral kebangsaan. [HaéN]

manusia nusantara, hasil oplosan silang antar etnis

 manusia nusantara, hasil oplosan silang antar etnis

Bincang, bicara soal etnis, tidak akan lepas dari pasal SARA. Makanya, sarapan menjadi wajib dalam pedoman gizi seimbang keluaran kementerian kesehatan. Lain halnya dengan ujaran BPIP, saradan atau kebiasaan hidup sehat dengan pola meja makan sesuai sila-sila daripada dasar negara multipartai. Agar jangan hidup sengsara, maka daripada itu rakyat tapak tanah, wong cilik disarankan ikut partai politik pro-rakyat. Muncul lima tahun sekali.

 Pètungan njawani perlu, memang ramalan nasib dengan cara menghitung hari pasaran seseorang. Bagus untuk menentukan nomor pilihan orang pada pesta demokrasi. Jangan sampai terjebak slogan arogan dari penguasa bak janji politik, biasanya gegedhèn alias kebesaran, terlalu besar. Kendati kenakan busana kebesaran, isi belum tentu “besar”. Obral obrol janji mirip sarana mistik untuk memengaruhi pihak lain.

 Salah ber-sara bisa berkahir di pusara. Minimal dapat stigma abnormal alias agak sedang terganggu sarafnya. Jika tidak mau dengar saran pihak berkepentingan. Langsung jadi sasaran gebuk di tempat. Aksi diri lewat dinding bisa berakhir bak arwah penasaran. Model diskusi, saraséhan, tukar panemu, adu saran, bentuk dasar asas mufakat utnuk tidak mufakat. Yèn wis saras. [HaéN]

Kamis, 02 September 2021

kebenaran ditentukan oleh mayoritas

 kebenaran ditentukan oleh mayoritas

Hak tanya saja dan atau hak ingin tahu sekali, rumusan apa yang dipakai. Kendati fakta lain sebut, kebenaran secara mayoritas, tersebar bebas tanpa ikatan akan kalah dan dilibas oleh kebatilan, kezaliman, tirani minoritas yang terorganisir rapi. Modus operandi subversi nusantara tidak ada duanya. Hanya terjadi di negara kepulauan. Tiap presiden punya gaya khas.

 Semuanya berpulang dari bagaimana niatan baik, tujuan mulia untuk menghidupkan dasar negara. Gampangannya, bagaimana wujudan “gotong royong” sesuai simbol negara multipartai. Banyak pasangan pantat yang haus kursi. Sekali duduk mau duduk lagi. Mau langsung nangkring, nongkrong di kursi tinggi tanpa keringat diri. Jual beli kursi menentukan adab demokrasi.

 Naluri, insting keberadaban kawanan politisi sipil plus mantan alat negara untuk segera merubah, mengamandeman ke-5 UUD NRI 1945. Bukti di atas segala bukti. Berlakulah rumusan di atas. [HaéN]

midak tembelèk ora penyèk

midak tembelèk ora penyèk

 Pasal paribasan njawani, sudah jelas. Siapa mau injak tahi ayam sampai rata. Apalagi telapak kaki dioser-oserkan agar merata. Padahal, guyon maton wong Jawa memang sarat pesan kritis. Maksud harfiah sekedar mau bilang, menginjak kotoran ayam saja tak mampu. Syarat minimalis, cukup dengan pangkal jari kaki, model dijinjiti. Sekedar ingin tahu.

 Kajian akademis atas usulan pasal adalah mirip tes wawasan kemanusiaan. Kategori dianggap tidak layak mengerjakan pekerjaan selayak apapun. Dikuatirkan akan mengkotori – tepatnya menyaingi – pihak  lain yang gemar main kotor. 

Salah duga, justru ybs yakin diri untuk bongkar “bau busuk” oknum atau kelompok kepentingan yang dikemas formal kenegaraan. [HaéN]

mondar-mandir mumpung ora ana mandor

 mondar-mandir mumpung ora ana mandor

Hanya profesi, keahlian khusus yang dibayar jam-jaman. Semisal tukang las bawah laut. Sertifikat ganda, dalam arti tidak satu keahlian. Multi talenta. Status risiko, dampak, efek domino bagi jiwa-raga menentukan lama jam kerja ideal. Perhari maupun dalam satu pekan. Selang waktu paket kerja, pemulihan diri, cukup lama.

 Tukang gali kubur tentu tidak berharap tiap hari ada order, pesanan. Siapa menggali lubang wajib urug kembali. Agresi pandemi global covid-19, batuan alat berat meringankan kerja. Asas praduga, varian anyar memunculkan sebaran rata éndemi subversi nusantara. Protokol politik kian kibarkan bendera. Laik laga bebas jelang 2024.

 Kiranya, pekerja binaan mental spiritual plus dan moral material berkebutuhn khusus oleh paprol lokal rasa dan resep global. Bergerak di atas tanah bumi ibu pertiwi. Bebas kendali lokal. ngidak tembelèk ora pènyèk. Isané gur ngenyèk liyan, waniné gur ngécé konco déwé. [HaéN]

Rabu, 01 September 2021

melèk politik potensial melanggar norma bernegara

melèk politik potensial melanggar norma bernegara

Wajar bin nalar kalau diberlakukan pada okonum kawanan anggota parpol yang terikat kontrak politik selaku penyelenggara negara. Terlihat lebih parah justru kawanan non-partai jika diberi kesempatan – semisal pembantu presiden – akan berbuat bebas. Merasa menjadi RI-0,5. Sejarah daripada rezim politik-militer Orde Baru, mampu membuktikan bukan politisi, bukan anggota parpol, sukses menjadi penguasa tunggal lewat 6x pemilu.

 Tersirat betapa kendaraan politik tergantung pengendali. Tidak perlu merintis, menapak dari nol. Langsung tancap gas pol. Tersirat pula letak beda mendasar antara dua periode SBY dengan dua periode Jokowi. Kendati sama-sama pada periode pertama RI-2nya JK.

 Tirani minoritas yang eksis sejak Orde Baru, berlanjut hingga kini.

 Skala daerah, konflik eksekutif vs legislatif. Menjadi contoh nyata, benderang. Kebijakan kepala daerah akan serta merta dikritisi bukan karena faktor pemerataan serapan APBD. Bukan karena program / kegiatan pro-rakyat terabaikan. Beda kepentingan politik atau akibat koalisi parpol pro-presiden tidak laku di pilkada. Kebenaran ditentukan oleh mayoritas. [HaéN]

méntal baliho bikin mental pemilih

méntal baliho bikin mental pemilih

 Adabiah, moralitas bernegara bangsa besar karena karena status jutaan populasi dan sebaran tidak setara penduduk. Lihat perilaku insan politik yang terwadahi pada wadah multipartai. Militansi, fanatisme kolokan kawanan partai sesuai nilai jual, nilai tawar elit parpol. Peninggalan sistem féodal, monarki masih melekat pada benak hamba-menghamba kepada pihak yang mampu bagi-bagi kursi. Edan tenan.

 Kawanan lontang-lantung, setan jalanan dan profesi non-formal, informal di zaman daripada rezim politik-militer Orde Baru, langsung direkrut, terima pakai, terima jadi kader Sekber Golkar. Bebas didikan politik. Berlanjut di era reformasi rentang ambang bawah. Asal sanggup menjadi donator parpol, potensial mensejahterakan elit parpol. Tidak pakai lama. Termasuk kesandung OTT KPK. Makanya KPK dikebiri

 Lagu lawas bahwasanya koalisi parpol pendukung presiden tidak berlaku di pilkada serentak. Elit lokal lebih menentukan “siapa menjadi apa” plus bilamana perlu “seberapa lama”. Ingat judul masih hangat “èlèktabilitas, èlèk tapi stabil”, date modified 8/27/2021 7:33 PM. Betapa rakyat tapak tanah, wong-cilik papan bawah sudah kebal diliciki oleh akal kancil dioplos dengan akal bulus. [HaéN]