Halaman

Senin, 28 Juni 2021

ngasoraké panguwasa, diunggahké 3 periode

ngasoraké panguwasa, diunggahké 3 periode

Modus kejawèn menghadapi seteru, musuh, lawan pakai rumusan  “menang tanpa ngasoraké”. Memang ampuh, cespleng kepleng plus 3M (manjur, mujarab, mustajab). Susah dihadapai secara frontal. Sudah praktekkan “nabok nyilih tangan” malah ngregedi tangan dhéwé. Model penguasa tunggal Orde Baru menyikapi pihak anti-kemapanan dengan “ora gelem dirangkul, beciké didengkul”.

 Justru gaya “menang tanpa ngasoraké, hanya bisa terwujud dengan metoda “ngasoraké” secara halus, sopan, sarat hormat. Mirip orang memuji, memuja pihak lain, padahal tujuan utama melecehkan. Pihak tersasar tidak sadar sedang dikerjain. Mirip bola tenis, dilempar ke atas, dilambungkan, lanjut dipukul keras. Kalimat tesirat (tidak tertulis) setelah menyanjung, adalah “soalé ora ono sing luwih èlèk” begitu ceritanya. 

Memuji ada tujuan terselubung, juga bisa. Lebih dari makna ”ada udang di balik batu”. [HaéN]

Minggu, 27 Juni 2021

adatan manusia berlapis derajat kemanusiaan

adatan manusia berlapis derajat kemanusiaan

 Kongres Masyarakat Adat Nusantara yang pertama di tahun 1999 mendefinisikan masyarakat adat sebagai komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur secara turun-temurun atas suatu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan lokal budaya, yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat.

 Perubahan Kedua UUD RI 1945, menghasilkan frase”masyarakat hukum adat” berupa:

Pasal 18B

 

(2)        Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.

 Mahkamah Konstitusi melalui Putusan MK No. 31/ PUU-V/2007 merumuskan Masyarakat Adat sebagai:

“Suatu kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya yang bersangkutan secara de facto masih ada dan/atau hidup (actual existence), apabila setidak-tidaknya mengandung unsur-unsur: a) ada masyarakat yang warganya memiliki perasaan kelompok (in-group feeling); b) ada pranata pemerintahan adat; c) ada harta kekayaan dan/atau benda-benda adat; d) ada perangkat norma hukum adat; dan e) khusus bagi kesatuan masyarakat hukum adat yang bersifat teritorial juga terdapat unsur wilayah hukum adat tertentu.”

 Mengacu fakta bahwasanya sektoralisme menempatkan masyarakat adat sebagai objek yang dieksploitasi ketimbang sebagai subjek yang harus dipenuhi hak-hak mereka sebagai bagian dari bangsa.

 Jelas sudah ikhwal melekat. Terjadilah bahwa aspek wawasan kebangsaan di mata penguasa. Memposisikan wong cilik selaku objek yang layak dieksploitasi, dieksplorasi katimbang selaku subjek punya hak hidup berkenormalan.

 Sensitivitas arus pendek informasi subversi penguasa, wujudan teranyarkan episode kejahatan kemanusiaan. Masuk wawasan politisasi kasus abadi “Cicak vs Buaya”. Benderang pihak mana menjadi musuh revolusi versi Orde Lama. Diperkuat kelompok berseberangan anti kemapanan besutan rezim militer-politik Orde Baru. Bergulir lewat sistem multipartai reformis menghasilkan pancasilais titulèr. 

Laga kandang pilpres 2024. [HaéN]

patut diduga, oknum bakal capres 2024 layak disangka

 patut diduga, oknum bakal capres 2024 layak disangka

Kendati sistem moneter berbasis elektronik (e-money) menjadi motor utama terorisme ekonomi malah menjadikan tipikor di atas angin nusantra. Tipikor subversi nusantara menjadi kompromi politik, kolaborasi  antar pihak, kontrakan dengan sebuah korporasi atau lembaga negara.

 Praktek korupsi kejahatan kerah putih bersumber (center of corruption) dari perbankan yang mempraktekkan sistem ekonomi rente; kreditur hidup dari keringat debitur; penebar penabur benih pecah belah bangsa, disintegrasi melalui kekuatan uang; kegiatan jual beli mata uang.

 Kendati penutup, apabila bilamana  manakala Indonesia masuk status negara yang tidak ramah investor, kurang kooperatif,  dianggap selaku negara tidak pantas terima bantuan dari lembaga keuangan global  tapi utang, bunga berbunga. Suku bunga tinggi. [HaéN]

radiasi multipartai pemandul demokrasi nusantara

radiasi multipartai pemandul demokrasi nusantara

 Prinsip demikian menjadi karakter politik bebas haluan nusantara, lanjut ke keindonesiaan. Agenda politik jelang 2045, geopolitik nusantara terjadi dominasi teroris konstitusi, menunjukkan kuat, kuasa, kaya berkelanjutan. Jika cuplikan adegan 2045 ditayangkan sekarang. Sepertinya akan pacu picu ubah, gubah, rubah tragedi politik berlapis.

 Mendadak kawanan politisi sipil plus alat negara, rombak wajah. kembali ke asal atau ikut mode jelang 2024. Pihak terlanjur meluncur, siap menyeret relawan pasang badan. Getol pasang pajang baliho tampakan diri, lenyap gulung tikar. Turunkan baliho. Ganti sosok diri agar tampak masih manusia doyan nasi komplit. 

Pemerataan kawasan serba padat. Warna kuning – sesuai legenda tata ruang mutakhir – efek kuningisasi muncul otoritas kawasan khusus manusia kuning. Ketika tindak-tanduk politik penguasa kian tunduk ke tekanan global. Kalah total. Cuplikan lain akan diuji secara terbatas untuk umum. [HaéN]

Sabtu, 26 Juni 2021

unjuk muka diri, bèn ora dicoblos

 unjuk muka diri, bèn ora dicoblos

 Promo diri tidak dilarang menurut pasal hukum yang masih berlaku. Termasuk jual diri. Diam itu emas. Tapi kalau tetap diam di tempat, berlaku pepatah tidak kenal, kenalan dong. Tak perlu kenal, sudah tahu wataknya, tentukan pilihan sesuai kata. Jamak, jika antara wakil rakyat dengan rakyat yang memilihnya, tidak saling kenal. Tragis binti gratis jika ini terjadi di tingkat RT/RW.

 Kendati “promo diri” didukung kecanggihan teknologi dan bisa digenggam tangan anak batita. Anak bangsa pribumi nusantara berketurunan, paham mana sepak bola, mana bola sepak. Tangan di atas beda aliran dengan tangan di bawah. Keringat saja pakai keringat orang lain. Tahu-tahu nangkring. Tan soyo dipatetèti tan soyo mbungahi. Ngéthoké aseliné.

 Modus politik tangan tengadah, penadah limpahan limbah kursi asal multipihak, global. Libido politik, syahwat poitik tanpa bawahan, bak kuda liar. Tancap gas. Pesuruh binaan partai berkebutuhan khusus, melaju fokus lurus pakai kaca mata kuda. Di depan jidat tergantung umpan kursi. Tidak perlu dilecut agar pontang-panting, tinggal gelanggang colong playu. [HaéN]

tunda kebajikan plus urung niatan baik

 tunda kebajikan plus urung niatan baik

 Makanya, aneka kejadian yang masih, sedang, akan terjadi seolah menjadi adat. Adatan manusia dengan berlapis derajat kemanusiaan. Tinggal pilih sesuai lakon yang akan dipentaskan. Busana melekat di tubuh menambah wibawa vs menambal harga diri. Kurang tampakan, tampilan diri secara ketubuhan. Diperkuat dengan atribut non-fisik. Penggunaan nama diri justru identitas “isi” katimbang hakikat diri.

 Pendidikan politik subversi nusantara bukan hal yang baru. Namun tidak pernah tersentuh adab pembaruan, yang terjadi malah pembauran, pengoplosan. Paham nasakom andalan Orde Baru. Lanjut pola pesta demokrasi dengan asas luber (lubangi beringin). Merasuki praktek jalanan multipartai. Arus pembawa perubahan langsung mengalami penolakan sebelum masuk halaman.

 Doeloe, Belanda masih jauh. Sekarang, tahu-tahu suku bangsa Tiongkok sudah punya ibu kota negara.  Perangkat digital seperti komputer dan gawai, menentukan keteranyaran indoktrinasi politik. Daur ulang, format ulang, tata ulang bahan ajar dan ujar politik bebas haluan. Bukti kerdil jiwa politik berkelanjutan, berkesinambungan. Marak politik tangan tengadah, penadah limpahan limbah kursi asal multipihak, global. [HaéN]

vonis alam berlaku umum, terkecuali jika

 vonis alam berlaku umum, terkecuali jika

 Perkuatan ideologi bangsa sudah menjadi keniscayaan. Belajar dari peringatan sejarah untuk merangkai sejarah masa depan. Tidak ada dosa bawaan, dosa turunan, dosa binaan, dosa ikutan, dosa penyerta maupun dosa susulan. Namun bencana politik beririsan dengan bencana kemanusiaan. Tragedi politik berbalut paket kebijakan politik. Lebih daripada itu, kompromi politik saat menetapkan UU bukti.

 Bahasa manusia bersebut ‘bencana alam’. Manusia religi merasakan sebagai ujian, peringatan atau peluang mawas diri, kesempatan koreksi diri total. Bahasa alam membuktikan sifat serakah anak cucu nabi Adam a.s berdampak, berbalas langsung di tempat kejadian perkara. Tak pakai lama.

 Masih ada uji bela bangsa, setia kepada partai atau loyal ke penguasa. Belajar dari bencana alam.  Mulai sigapnya pemerintahan daerah (eksekutif dan legislatif) yang pro-rakyat atau sekedar kejar kekuasaan. Sampai bagimana rasa persatuan, persaudaraan (ukhuwah), solidaritas, ikatan teritorial antar umat. Wajar jika rakyat saat menghadapai kondisi eksternal di luar daya tahan, di atas ambang batas akan bertindak di luar akal, berbuat tanpa nalar, bergerak bebas logika.

 Makna judul “kewajiban sebagai presiden vs loyalitas sebagai petugas partai”, date modified 4/19/2018 4:59 PM. Bayangkan kalau sebuah bangsa, dengan ratusan juta penduduknya, mau mendaur ulang tragedi dunia. Dengan bintang utama yang nyaris mirip. Skenario disesuaikan dengan tuntutan, tantangan dan kebutuhan zaman. [HaéN]