Halaman

Rabu, 03 Desember 2014

PARTAI BESAR - PARTAI KECIL - BUKAN PARTAI BORONGAN

Beranda » Berita » Opini
Kamis, 02/08/2007 03:20

( terima kasih kepada penulis opini MPR ini)

PARTAI BESAR - PARTAI KECIL - BUKAN PARTAI BORONGAN

Betul , setuju ! jumlah partai disederhanakan dengan syarat yang riel, jangan asal ada satu figur yg PeDe lalu bangun Partai, mereka mendirikan partai harus merupakan hasil penelitian (jangan menyempitkan arti musyawarah mufakat). Kita bersyukur ada kebebasan ini, semoga resultan dari kebebasan ini membuahkan enegi positip buat bangsa. Kiranya tdk perlu panik dengan era transparansi ini. PM Jepang sering berganti pada periode yg sangat pendek akibat skandal, tapi perekonomian dan kehidupan lainnya berjalan berkualitas.... jalan terus HN , jalan terus pak someone... bangsa ini harus disesaki kepedulian seperti semgat nya bapak-bapak ........ OPINIIIIIIIIIIIIIII.


Menyegerakan Panggilan SMS

Menyegerakan Panggilan SMS


Produk unggulan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berdampak secara sistematis terhadap gaya hidup, gaul dan gengsi ke hampir semua lapisan usia dan strata sosial masyarakat pengguna. Dunia seolah dalam genggaman. Mendekatkan jarak dan waktu, sebagai semboyan awal, berkembang secara drastis. Kemanfaatan TIK mendorong terjadinya revolusi mental dan moral. Jika ‘man behind the gun’ tidak pandai-pandai memanfatkan produk TIK, berakhir akan menjadi budak TIK.

Anak bangsa, generasi masa depan dengan daya tanggap, peka, peduli dan olah nalar bak kertas kosong. Invasi dan intervensi berbasis perdagangan bebas dunia, tidak hanya produk TIK yang melenggang masuk NKRI, berbagai ragam tayangan pun ikut menumpang. Harga produk TIK yang terjangkau oleh ahli unjuk rasa, khususnya kawanan pekerja/buruh yang gemar dan getol menuntut  UMP sesuai komponen layak hidup.

Anak bangsa menjelma menjadi pengguna produk TIK sejak dini. Menjadi pengguna fanatik. Generasi tidak gagap TIK, generasi melek TIK, acap terjadi belum waktunya, belum jatuh tempo untuk dewasa. Dalam arti lebih kuasa mudharatnya daripada maslahatnya. Skala harian, dari subuh hingga subuh, pendengaran dan penglihatan anak (bahkan sejak dalam kandungan) sudah dijejali dan terkontaminasi tayangan dan sajian layar kaca, secara sistematis, masif dan berkelanjutan. Nyaris 24 jam sehari. Berbagai acara, atraksi dan adegan yang nyaris tanpa sensor pihak berwenang. Modus operandi penjajahan dari dalam, oleh awak bangsa sendiri serta penjajahan melalui arus masuk budaya asing yang serba bebas.

PSK (pedagang sayur keliling) tidak sekedar mengandalkan lokasi operasional. Siap menerima panggilan dan pesanan pelanggan via SMS. Siap berburu dan uber sembako pesanan pelanggan, eceran maupun borongan. Menyisati kebutuhan dan keperluan pelanggan, PSK jual pulsa, minimal sumber informasi. Pola kerja tukang ojek tak beda jauh dengan PSK. Mulai antar jemput anak sekolah, terima order bak taksi, sampai merangkap jadi tukang bangunan.
Di kalangan birokrat, hubungan kerja antar Aparatur Sipil Negera (ASN), tidak sebatas jam kerja atau di kantor saja. SMS dari atasan di hari libur, di luar jam kantor, saat sedang kumpul keluarga, sedang di perjalanan, sedang tugas dinas luar kota, wajib direspon dengan cepat! Tugas mendadak liwat SMS, mewakili rapat sampai tugas dinas luar.

Di tayangan layar kaca, ustadz menyoal anak lebih cepat tanggap SMS daripada panggilan orang tua. Bahkan dihimbau, jika anak minta bayaran uang sekolah, minta ke HP. Pakar psikologi anak memprihatinkan rekam jejak anak yang menjadi korban kemajuan TIK. Anak menjadi monster dalam kadarnya. Dokter ahli jiwa anak tak kalah sengitnya mengutarakan rasa kuatir akan perkembangan jiwa anak yang dipacu dan dipicu, dikarbit oleh fasilitas yang tersedia di produk TIK. Tangan anak seolah lengket dengan berbagai tingkatan produk TIK. Imaji anak akrab dengan permainan yang menjadi bagian fasilitas. Anak menjadi korban revolusi mental, dari anak yang manis, bertingkah laku dinamis. Kalau masih diam, duduk yang manis, bisa-bisa jiwanya sudah berbakat iblis.

Sebagai pernah jadi anak, siapa pun, di mana pun, kapan pun, menjadi korban akut pendayagunaan dan pemanfaatan produk TIK. Kemana pun HP ditenteng. Berkomunikasi 5 (lima)  waktu dengan Allah, HP menjadi saksi. HP menjadi teman tidur. HP diajak merenung di kamar kecil. Revolusi mental dampak produk TIK, kita mengutamakan panggilan SMS daripada seruan muazin. Kita menyegerakan panggilan SMS ketimbang mengakhirkan kesibukan untuk memenuhi panggilan sholat. [HaeN]  

-----------------

Selasa, 02 Desember 2014

ANTI KEMAPANAN DAN FALSAFAH ROTI TAWAR

Beranda » Berita » Opini
Selasa, 25/02/2003 08:45

KOBARKAN SEMANGAT "AA GYM" :
ANTI KEMAPANAN DAN FALSAFAH ROTI TAWAR

Sejak bangsa Indonesia mengenal roti tawar, semasa VOC, sewaktu Kompeni, dalam status inlander atau di era Reformasi ini banyak fatwa yang dapat disimpulkan. Ada pasal yang mengutarakan bahwa pemakan roti tawar hanya dari klas elite saja. Ada dalil yang menjabarkan bahwa pemakan roti menunjukkan telah maju dan modern. Ada argumen yang mengetengahkan alasan bahwa pemakan roti adalah kroninya penjajah. Apa pun sejarahnya, yang jelas ketika orang akan makan roti tawar bagian "kulitnya" akan dibuang. Alasannya cukup masuk akal "inlander" yaitu karena keras. Apalagi kalau kulitnya gosong, akan dikatakan keras dan pahit! Kemanjaan mulut bangsa Indonesia dalam mengkonsumsi roti tawar dipenuhi dengan adanya roti tawar kupas. Roti tawar tanpa kulit. Jadinya mulut bangsa Indonesia tak perlu repot-repot mengunyah keempukan roti tawar. Menurut pakar gizi dan ahli gigi yang telah melakukan uji coba di laboratorium bahasa mengatakan justru bagian kulit roti tawar banyak gizinya! Berbeda dengan donat, yang paling enak bagian tengahnya. Yang tak enak (bagian luarnya) diekspor ke Indonesia, menjadi santapan elite bangsa.

Wacana ini hanya sekedar membuktikan bahwa kita senang bahwa segala sesuatunya tinggal dikunyah. Entah siapa yang menyuapkan, entah darimana asalnya, entah bagaimana prosedur mendapatkannya, entah bagaimana prosesing dari bahan baku hingga siap santap. Asal jangan model burung yang meloloh anaknya. Bekerja tanpa keringat, beda dengan makan sampai mandi keringat. Kita mewarisi semangat Orde Baru dan reinkranasi Orde Lama sampai ke tatanan hidup sehari-hari. Di jalanan betapa orang main serobot jalur lain, potong kompas, putar haluan, saling salib, berhenti mendadak, belok tanpa sign sampai selama masih ada calo SIM berarti kita masih memihak KKN.

KKN tidak mengalami pengikisan, hanya berubah bentuk dan semakin merata ke pelosok NKRI. Beban dua orde yang saling bermusuhan, mereka "bersatu" di era Reformasi yang tinggal gigit jari. Para Reformis hanya kebagian "isinya" donut, itupun saling diperebutkan. Donut bikinan IMF menjadi incaran, donut yang menggelembung ibarat parpol yang kebesaran perut menjadi trade mark Reformasi.

Mimpi di siang hari bolong malah menjadi trend, di samping menebar janji sebelum kampanye Pemilu 2004. Anti kemapanan bukan dalam skala politis saja, sudah merambah ke semua seluk beluk kehidupan. Standar ganda ala AS sudah usang dalam menilai kinerja petinggi bangsa. Tonggak kehidupan yang dipancangkan oleh Dwitinggal telah keropos, dimakan bangsa sendiri. Sanksi dan norma kehidupan yang diadob dari budaya bangsa yang adiluhur semakin luntur, dicampur baur dengan budaya asing yang terlihat lebih kemilau. Semakin banyak museum menyimpan atribut kebangsaan, semakin menggunung arsip nasional menimbun berkas file kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan beragama - semakin suntuk mimpi indah kita. Jika tiap partai politik membawa tonggak berbangsa dan bernegara, sedangkan tonggak tersebut sudah keropos dari sononya, apa jadi NKRI ini nantinya. (hn).


Selamat tinggal / jalan politisi sipil

Beranda » Berita » Opini
Kamis, 22/04/2004 07:26
Selamat tinggal / jalan politisi sipil
Sejauh Sang Reformis menjegal, menyeruduk dan mengilhami misteri cara pengendutan diri tak terasa mereka telah menggali liang kuburnya sendiri. Bukan masalah Orba tetapi Sistem Orba yang telah disederhanakan secara elegan dalam bentuk a.l. KKN Gotong Royong. Politisi sipil hanya mampu tampil di media massa dalam acara silang kata, antara kader parpol penguasa / penyelenggara negara melawan eksekutif.


Dua jenderal produk Orba beradu maka politisi siap naik keperaduan. Belum seru jika golongan salibritis akan menyalib tetapi tidak melanggar. Selamat tinggal / jalan para pahlawan kursi. (hn)

Senin, 01 Desember 2014

DAYA RUSAK KORUPSI

DAYA RUSAK KORUPSI


Secara sadar, manusiawi dan kodrati kita melakukan korupsi dari strata dan kadar yang paling sederhana. Kita bisa bangun jelang subuh, karena memperpanjang kenikmatan mimpi, nyenyak diperpanjang sampai matahari berkibar. Alasannya tidur cukup larut malam, habis lembur utawa memanfaatkan waktu sisa jelang tengah malam sebagai pemirsa setia. Jaga kesehatan dengan tidur panjang agar kerja tetap bugar. Setan mengencingi telinga kita, tak terasa, setan selalu menang. Saat itu kita tidak merasa rugi waktu, merasa tidak merugikan siapa pun. Korupsi waktu dilakukan sepanjang waktu, nyaris rutin dan menerus akhirnya kita tak bisa membedakan mana rekayasa jiwa (niat tidur tapi tanpa niat bangun pagi), mana murni kecelakaan (tidur bebas dari hukum agama). Korupsi waktu menjadi budaya, terlebih tanpa sanksi.

Korupsi waktu mengilhami atau menggerakan motivasi untuk korupsi lainnya. Memang tidak ada niat atau indikasi berbuat tipikor. Akumulasi hidup terasa mudah, kontrol diri sebatas niat awal (walau Allah menilai perbuatan manusia atas dasar niat) tanpa meyakini ada yang “melihat”.  Sedikit demi sedikit, akhirnya budaya korupsi terasa menggigit. Semakin digigit semakin renyah dan gurih rasanya.

Model korupsi di NKRI sangat bervariasi dan beragam. Mulai skala lokal, skala regional sampai skala nasional. Mulai dari figuran sampai sutradara di belakang jeruji besi. Perlakuan hukum atas koruptor, manipulator klas paus yang masuk kategori terpidana dikatakan malah memuliakannya. Beda dengan tindak kriminal lainnya yang karena setoran utawa upetinya tidak layak, tidak sesuai dengan standar jual beli perkara, tidak ada lampirannya langsung diproses, tidak perlu penyelidikan dan penyidikan yang bertele-tele.

Dimana ada kesempatan dalam kesempitan, koruptor akan beraksi, secara perorangan maupun berdasarkan asas mufakat. Birokrasi memang sarang yang mengandung dan mengundang nafsu korupsi. Semula mungkin tak ada niat berkorupsi, akan tetapi atas desakan keadaan, tekanan politik, permintaan penggemar, dorongan nafsu, bisikan kawan separtai, sekedar iseng, situsai dan kondisi yang mendukung, dalam lingkungan yang sudah terkontaminasi secara sistematis, coba-coba, akhirnya korupsi jadi budaya. Mungkinkah tatanan negara dan tataran politik NKRI rawan tipikor? Mata rantai tipikor sudah mengakar dan menggurita sampai pelosok nusantara, dilaksanakan secara seksama dalam tempo menerus oleh birokrat, aparat kepolisian, jajaran penegak hukum, pebisnis di dunia militer, parlemen, rekanan, sampai para pemangku kepentingan dari berbagai unsur dan anasir. Tiap tahun rating atau peringkat sebagai negara yang melahirkan koruptor, semangkin meningkat. Diimbangi tarif BBM dan UMR termasuk kategori murah utawa rendah, untuk skala ASEAN sekalipun. Apa kata dunia. Tak terasa, tipikor telah memasuki babakan megamafia. Aliran idiologi yang hanya mementingkan kepentingan parpolnya menyuburkan sumber dan aliran dana dari berbagai pihak.

Dampak korupsi bisa dirasakan oleh keluarga sang koruptor. Tidak hanya dampak yuridis.  Dampak relijius, dampak sosial bisa terasa. Mengkonsumsi sajian dan hidangan yang tak bawa berkah. Membelanjakan uang yang bukan haknya. Gaya hidup yang jauh dari kesederhanaan. Tinggal di rumah mewah dari uang menjarah. Finansial dan ekonomi terlihat terjamin. Mata hati tak bisa tertipu ketika lihat rumah kumuh, anak jalanan, gelandangan dan pengemis, pemulung. Di relung hati terdalam, terlebih melihat contoh sang terpidana tipikor (walau tak dimiskinkan oleh pengadilan) menyesali diri tujuh turunan, akan terketuk.

Beda parpol, korupsi tetap nongol. Beda fraksi, komisi, faksi tetap korupsi. Ironis, dalam satu keluarga bisa menikmati hasil korupsi bak makan durian runtuh. Dalam satu lingkungan unit kerja utawa unit usaha, korupsi sudah jadi mata pencaharian utama. Tak terasa, tipikor telah memasuki babakan megamafia. Aliran idiologi yang hanya mementingkan kepentingan parpolnya menyuburkan sumber dan aliran dana dari berbagai pihak.

Generasi muda yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, di satu sisi sebagai ahli demo, di sisi yang lain diributkan dengan status atau sistem pendidikan. Usai wisuda, berhadapan dengan kesulitan untuk cari pekerjaan.

Hidup tidak bisa dipersamakan dengan persamaan matematis. Jika melihat keberhasilan, prestasi seorang mahasiswa, bisa dihitung mundur langkah apa saja yang telah ditempuh; pendekatan apa saja yang sudah diterapkan; kiat, ikhtiar, upaya, upaya apa saja yang pernah dipraktekkan. Angka hoki apa saja yang harus dipunyai, rumus ajaib apa saja yang harus dimiliki, jurus jitu apa saja yang harus dikuasai sampai kemungkinan adanya formula keberuntungan. Bisa juga nama membawa berkah.

Cukup banyak mahasiswa yang mati-matian, jungkir balik, banting tulang dalam merencanakan serta mengerahkan berbagai ikhtiar untuk meraih prestasi (diukur dengan nilai akademis). Berbagai kegiatan dan aktivitas dilakukan dengan sepenuh hati karena diyakini sebagai jembatan untuk menggapai dan mewujudkan prestasi juga. Sebanyak itu pula yang telah mempertaruhkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengukir prestasi, namun prestasi malah menjauh, alias hasilnya nihil. Bukan prestasi yang diraih, malah frustasi. Mungkin, karena terjebak dan tidak bisa membedakan mana fantasi, mana sensasi, mana prestasi.

Sebaliknya, justru tak jarang, mahasiswa dalam ngalakoni hidupnya kelihatan santai, alami, apa adanya, cuek bebek malah bisa menumpuk sukses. Seolah sukses bukan sebagai fungsi usaha. Tipe ini bukanlah mahasiswa yang tak tanggap, tak peduli, tak peka, atau acuh terhadap lingkungannya. Bukan pula nasib baik yang menjawab. Bisa juga karena garis tangannya tidak ruwet, lurus-lurus saja. Pengaruh lingkungan (khususnya dari keluarga), gaya hidup, asupan gizi, pergaulan, bakat serta banyak faktor lainnya yang mempengaruhi/menentukan suksesi mahasiswa. Tekad, ketekunan, keuletan, ketabahan jauh dari popularitas yang membuahkan prestasi. Tak sengaja malah melejitkan nama.

Kewajiban mahasiswa bukan menebak posisi dari anomali atau penyimpangan tersebut yang akan mempengaruhi  pola pikirnya. Karena niat untuk berubah, ikhtiar yang dilakukan secara tekun dan menerus, do’a yang dimohonkan kepada-Nya, harapan mendapat ridho-Nya, dilandasi dengan tawakal yang akan menentukan keberhasilan. Walau secara formal disebutkan bahwa “mahasiswa yang berprestasi” adalah setiap mahasiswa yang telah menghasilkan dan memberikan sesuatu yang berdaya guna serta berhasil guna bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Secara mendasar mahasiswa harus berguna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri.


Medical check-up, uji kelayakan dan kepatutan, tes DNA, bagi tersangka tipikor agar mereka layak diadili (tidak mendadak lupa, tiba-tiba sakit, hiba merasa renta, sedang akting bohong), layak dipidana penjara (sehat jasmani rohani, manusiawi). [HaeN]

Sesuai Skenario

Sesuai Skenario

Modus operandi Densus 88 Mabes Polri dalam menumpas teroris di sarangnya, bak sinetron, sudah bisa ditebak jalan ceritanya, sudah bisa diduga akhir ceritanya. Kalau bagus, muncul episod berikutnya, berjilid.

Kendati penggerebegan tidak pernah bocor, walau acap salah sasaran atau salah tangkap, justru membuktikan adanya skenario udang di balik batu. Sebagai bandingan dan sandingan, betapa kelompok bersenjata di pulau Papua, yang jelas-jelas berani menembaki TNI/Polri, tidak pernah berhasil digerebeg.


Memang teroris berani mati, tetapi tidak harus dimatikan di tempat. Apakah dengan operasi tangkap tangan teroris, dikuatirkan skenario asli akan terbongkar.

Sabuk pengaman dan jalan retak

Beranda » Berita » Opini
Selasa, 25/05/2004 16:24

Sabuk pengaman dan jalan retak

Sabuk pengaman, bagi pengemudi dan penumpang depan hukumnya wajib, diteguhkan dengan UU. Logikanya, di jalan aspal menuju tempat kerja jarang masuk gigi 3, apalagi lebih. Gangguan di perjalan justru dari kondisi jalan. Semula retak buaya, dibiarkan, tidak ditambal. Akhirnya jadi kubangan buaya, itupun tak ada niat dan itikad Pemda untuk menambalnya.


Biaya rehabilitasi / pemeliharaan jalan entah jalan-jalan kemana !!! Selain jalan rusak belum waktunya, kendaraan pun rusak belum saatnya. Kita perlu UU dan Polisi yang mampu merehabilitasi / memelihara jalan. (hn)