Presiden: Tahun 2021
Indonesia Belum Pernah Impor Beras
https://www.kominfo.go.id/content/detail/38411/presiden-tahun-2021-indonesia-belum-pernah-impor-beras/0/berita
https://www.cnbcindonesia.com/news/20210819101708-4-269537/dari-india-sampai-vietnam-ri-impor-beras-rp-266-m-sebulan
https://repjabar.republika.co.id/berita/qzoucx327/ppnsi-kritik-kebijakan-pemerintah-yang-masih-impor-beras
PPNSI Kritik Kebijakan Pemerintah yang Masih Impor
Beras
Ahad , 19 Sep 2021, 22:43 WIB
Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Muhammad
Fakhruddin
REPUBLIKA.CO.ID,SUKABUMI
-- Perhimpunan Petani dan Nelayan seluruh Indonesia (PPNSI) mengkritisi
kebijakan impor yang masih dilakukan pemerintah. Hal ini disampaikan Ketua Umum
PPNSI disela-sela Rakernas PPNSI ke V di Hotel Pangrango, Kabupaten Sukabumi, Ahad
(19/9).
''Kebijakan impor
yang dikeluarkan oleh pemerintah seperti impor beras, hortikultura, gula dan
garam sangat tidak berpihak pada petani dan nelayan,'' ujar Ketua Umum PPNSI
Slamet kepada wartawan. Diantaranya pada kebutuhan pokok seperti beras data BPS
tahun 2021 menunjukkan tahun 2018 Indonesia mengimpor 2,2 juta ton (1 Miliar
US$), tahun 2019 impor 444 ribu ton (184 juta US$), tahun 2020 impor 356 ribu
ton (195 juta US$), dan tahun 2021 impor 242 ribu ton (110 jita US$).
Padahal kata
Slamet, Bulog menyatakan stok beras di gudang cukup. Ia juga menyayangkan
komentar presiden yang mengatakan bahwa sudah 2 tahun terakhir Indonesia tidak
pernah mengimpor beras.
Namun faktanya
impor beras hampir setiap tahun terjadi, bahkan saat presiden menyatakan
demikian, impor beras tahun 2021 sudah mencapai 242 ribu ton dengan nilai 110
juta USD. Sejatinya impor disaat stok beras cukup sama saja melakukan
pengkhianatan kepada para petani loka.
Selain itu, Slamet
juga mengkritisi belum maksimalnya pemerintah dalam menjaga Nilai Tukar Petani
(NTP). Di mana belum pernah melebihi NTP 104 atau hanya rata-rata 101.89 selama
7 tahun terakhir.
Artinya lanjut
Slamet, kesejahteraan petani selama 7 tahun terakhir masih berada pada titik
yang sama. Data NTP terbaru pada pada bulan Juli 2021 turun 0,11 prrsen dari
NTP di bulan Juni 2021 menjadi 103,48. Sementara Inflasi bulan Juli 2021
mengalami kenaikan 0,08 persen yang artinya petani mendapatkan dua pukulan
secara bersamaan dimana disaat kesejahteraannya menurun daya belinya pun
mengalami penurunan.
Slamet juga
mencatat pada akhir 2020 data BPS menunjukkan terjadi peningkatan signifikan
impor kopi, teh dan rempah-rempah sebesar 55 persen dibanding bulan sebelumnya.
Ia pun mempertanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi padahal sejak dahulu
Indonesia dikenal karena kekayaan kopi, teh dan rempah-rempahnya.
PPNSI ungkap
Slamet, ingin hadir bersama petani untuk berjuang menjayakan kembali kopi, teh
dan rempah-rempah Indonesia. Nasib komoditas perikananan dan pergaramanpun tidak
jauh berbeda.
Menurut Slamet
berbagai kendala masih banyak ditemukan seperti kendala konektivitas
infrastruktur yang belum terpadu sehingga menyebabkan supply barang antar
daerah masih sangat terbatas. Alhasil masih banyak komoditas-komoditas yang bisa
dihasilkan secara mandiri namun untuk penyediaannya bagi bahan baku industry
lebih banyak dipenuhi oleh komoditas impor.
''Kehadiran PPNSI
akan terus bersinergi dengan berbagai stakeholder untuk membantu pemberdayaan
para petani dan nelayan dalam mengembangkan usahanya menuju korporasi petani,''
cetus Slamet. Sekaligus memberikan advokasi kepada mereka untuk berperan aktif
dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.
Mohon perhatian pemirsa
untuk dibaca saja . . . [HaéN]