Halaman

Senin, 02 Maret 2020

hafal Pancasila susah, lebih susah lagi

hafal Pancasila susah, lebih susah lagi

Yang dimaksud dengn “hafal Pancasila” adalah minimal seperti tersurat di Undang-Undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Bagaimana menjelaskan perwujudan sila-sila Pancasila sesuai Lambang Negara berbentuk Garuda Pancasila yang kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda.

Jangan bandingkan, sandingkan, tandingkan dengan ahli teori tanaman pangan, tapi belum pernah praktik bercocok tanam. Ironis binti mirisnya, malah belum pernah lihat tanaman yang dimaksud sesuai proses tanam. Itu doeloe.

Milenialisme, khususnya generasi jidat dua jari, tugas utamanya adalah melaksanakan nafsu ujung jari tangan. Soal bagaimana efek domino selaku pembunuh karakter, salah sendiri mau jadi korban media sosial. [HaéN]

Minggu, 01 Maret 2020

dicari, paket Pancasila sekali pakai



dicari, paket Pancasila sekali pakai

Bukan asumsi sejarah atau fakta kejadian perkara yang masih, sedang, akan terjadi. Perguliran pasal pelanggaran sumpah dan atau janji jabatan penyelenggara negara. Terkhususnya, akibar rangkaian pesta demokrasi daripada Soeharto yang berlanjut ke rezim politik reformasi. Tak ada kapoknya. Bahkan kian ganas, tak perduli mulai dari tingkatan kursi. Asal diduduki oleh manusia politik yang kontrak politik lima tahun.

Tak perlu menunggu 100 hari pertama. Media massa ikut membantu aksi buka mulut, bahasa tubuh maupun modus tipu-tipu.

Lepas dari konteks, teks sumpah dan atau janji. Dianggap acara seremonial formalitas basa-basi. Rekam jejak sebagai pejabat siap catat 24 jam. Sejalan dengan detak laju realisasi pelunasan biaya politik, ongkos politik. Merasa aman jika janji kampanye sudah djabarkan. Milik bersama.

Segitiga pengaman politik nusantara, legislatif-eksekutif-yudikatif. Sudah berjalan sesuai kadar tahu sama tahu. Format koalisi parpol pro-penguasa seperti sudah ada kesepakatan untuk tidak sepakat. Kebijakan partai tetap utama dan penentu nasib.

Bagaimana praktik, realisasi sila-sila Pancasila saat berbangsa dan bernegara, sudah dibakukan. Dicetak menjadi buku saku. Jangan sampai ketinggalan untuk hadapi razia politik. Bahasa politik tingkat tinggi membuat mereka kebal hukum. [HaéN]

tidak dengan siapa-siapa tetapi bisa dengan siapa saja


tidak dengan siapa-siapa tetapi bisa dengan siapa saja

Anomali perwujudan manusia seutuhnya selaku makhluk sosial, tak berkorelasi dengan status sosial. Berani karena banyak. Semboyan yang dimiliki oleh anak dewasa. Fisik mewakili orang kuat, tapi nyali apa daya. Dipancing iming-iming atau dongkrakan obat kuat agar berani tampil. Kapan saja.

Jiwa sosial anak bangsa pribumi nusantara, tergantung pola lalu lintas jalan. Rasa berani tanpa embel-embel, lebih ditentukan pola distribusi politik lokal. Meleburnya manusia di dunia kegiatan sosial bukannya tak berdampak. Status sosial, pendidikan tidak otomatis terdeteksi pada gaya bahasanya.

Simak media-mediaan, hasil kerajinan ujung jari tangan, berupa tulisan yang sarat karat. Ranah daya akal yang berpusat di otak acap berseberangan dengan budaya lingkungan. Dinamika kehidupan bermasyarakat malah melahirkan budaya tersendiri. Semacam ada bahasa gaul.

Derajat keilmuan seseorang plus jam terbang pengalaman selaku manusia. Jebakan rekayasa sosial akibat format politik nusantara tanpa bentuk. Berani tampil di panggung politik. [HaéN]

yang dekat dengan kita cuma


yang dekat dengan kita cuma

Bukan acara teka-teki silang, bebas berujar tanpa standar wajar. Penggunaan kata, lema ‘dekat’ sedemikian jauh dari dugaan akal sehat. Kebiasaan hidup memikirkan yang jauh-jauh, membuat diri ini kurang peka. Daya jidat dua jari, sesuai asas artificial intelligence (AI). Menjelaskan yang samar.

Kebalikannya. Menyamarkan fakta di depan mata agar manusia berpeluang sigap diri. Modus main hindar, cepat cari jalur selamat, pura-pura tak tahu atau ahli menyusun aneka alibi. Menjaring plus menyaring secara kritis setiap asupan informasi. Kemasan atraktif sebagai upaya kamuflase. Bahasa politiknya, garang-garing. Tapi kian enak ‘digoreng’.

Apa saja yang melekat di diri sejak lahir, bisa menjadi jati diri, citra diri, pesona diri, wibawa diri dan nilai jual. Antar saudara kandung memang ada benang merah. Urutan kelahiran bisa menentukan siapa kita sejatinya. Faktor eksternal kian memupuk kepribadian manusia. Persepsi pihak luar kita posisikan sebagai cermin kehidupan.

Kita pernah mengalami proses perpindahan, peralihan alam. Dari kandungan ibu pindah, beralih ke dunia, melalui proses kelahiran. Pasca kelahiran, meninggalkan dunia terbatas masuk ke dunia tanpa batas. Kehidupan sementara di dunia dimulai untuk menuju kehidupan abadi. Persoalan hitungan waktu, tak perlu dicari sudah menanti, tak bisa dihindari. [HaéN]