Halaman

Minggu, 30 Mei 2021

03:00:00 30 mei 2021 tertera 118 tampilan, dari total 138 tampilan

 03:00:00 30 mei 2021 tertera 118 tampilan, dari total 138 tampilan

Cukup satu ungkapan hati: “alhamdulillah”.

 Sengaja tidak membuka fakta lain di personal blospot. Misal pemirsa dari negara mana saja, yang serentak tanpa komando, bebas protokol kerumunan massal tanpa tatap muka. Soal waktu. Saat turunan puncak lelap malam waktu nusantara, waktu tempat penulis. Sigap diri, sinyal diri mendeteksi tanda-tanda masuk batas waktu 1 (satu) jam jelang azan subuh.

 Betapa, judul olah kata yang paling diincar pemirsa. Apakah pemirsa langganan yang terusik risi dengan mégafakta.

 Sekali lagi, cukup bersyukur. Hanya boleh berharap, Allah SWT akan melipatgandakan curahan, limpahan, gelontorn rezeki-Nya. Amiin YRA. [HaéN]

maturing priyayi pribumi, tegesé . . .

 maturing priyayi pribumi, tegesé . . .

 Basa-basi dimungkinkan pemggunaan basagita (kata-kata indah), lebih mungkin terucap, terujar antya-basa (bahasa yang berlebihan). Selebihnya bisa menimbulkan fakta rasa basi. Basa-basi, saudara dekat omong kosong. Masalah kebahasaan. Pihak tertentu mengartikan basa-basi alias tata krama, subasita, sopan santun.

 Duduk perkara basa-basi sesuai laju adab berbangsa yang beririsan dengan bernegara. Jika bang haji bilang, yang haram saja susah didapat, sulit diraih, sukar dipegang. Maka daripada itu lahir generasi pendengung (buzzer) tanpa batas umur, bebas pendidikan formal. Wajib mampu berimprovisasi daya guna kata dan kalimat nista diri untuk menista pihak lain.

 Ketika date modified 11/13/2018 7:23 AM. Terpampang judul “peng-inggih vs méntal mukiyo”. Hebatnya lagi, mental peng-inggih bukan monopoli kelas rakyat, wong-cilik, warga tapak bumi, akar rumput. Semua strata masyarakat berhal yang sama. Tidak pandang jenis kelamin. Didominasi pemilik golongan darah AB, AD, AA, H atau setipe lainnya. Nama orang, penggunaan huruf hidup khususnya huruf hidupnya ‘ha na caraka’, teramat menyiratkan unggah-ungguh. Muncullah watak atau kawanan pe-inggih.

 Judul sengaja dibuat mengambang. Kalau dibunyikan malah terasa asing, aneh di kuping. [HaéN]

Sabtu, 29 Mei 2021

daripada tidak berbuat

 daripada tidak berbuat

 Status posisi judul di antara kredo “di rumah (s)aja” dengan taat asas protokol kebangsaan di saat alih waktu sepi, senyap tidak ada pengawasan melekat maupun CCTV. Kriteria utama penentu pilihan bukan karena pertimbangan ekonomi. Karena semua babakan hasil kalkulasi ekonomi makro, global. Pasal untung rugi sudah diperhitungan sedemikian nylimet.

 Ikut arus kuat, membuat si kuat pun bukan jaminan aman, selamat, lancar sesuai rencana. Rajah tangan terdeteksi bakat sugih bondo. Nanging melarat bolo. Akhirnya biaya rawat aman secara legitimasi, tak terbayarkan. Menjadi sapi perahan pihak yang lebih licik. Picik secara politik, tapi paham luar dalam kursi konstitusi. Kendati masuk bursa konspirasi, skenario multipihak, harus kuat-kuat biaya operasi dan pemeliharaan.

 Asal pernah tinggal di ibukota negara, otomatis punya rasa nasionalisme. Beda jauh dengan kaum penglaju. Cari nafkah, rezeki, bekerja di ibukota negara, tapi tempat tinggal di kota perbatasan. Daya juang kelompok masyarakat pendatang, lebih teruji ketimbang penduduk aseli.

 Alih fungsi, dari lahan pertanian produktif menjadi kawasan komersial. Dalih pemerintah impor beras dan peluang pemerintah daerah dengan tambahan saku PAD. [HaéN]

sentimen moderat tipikor, musuh rakyat vs mitra penguasa

sentimen moderat tipikor, musuh rakyat vs mitra penguasa

 Pemahaman secara awam terhadap profil tipikor sudah begeser dari hakikat secara moral hukum. Semakin berderet, bertingkat pasal pengurai bobot tipikor. Kian dekat dengan filosofi petani tanam padi di sawah. Hingga sampai pada musim panen, serapan besar pada biaya tidak terduga. Langkah dan aksi harian hadapi agresi musuh padi. Dari segala arah penjuru lewat darat, air, udara.

 Waktu panen kian terstruktur ATHG. Antar pihak beda kepentingan saling adu nyali, rebutan lahan yang sama. Aneka hama politik berlomba dua cepat. Tidak ada rasa malu. Pasal tabu, aib, cela, nista kian tersamarkan oleh dalih tuntutan bebas bernegara segala musim. Filosofi hidup kaya 7 (tujuh) turunan menginspirasi 7 (tujuh) presiden RI.

Maka daripada itu, presiden ke-7 RI, 2014-2019 lanjut 2019-2024 merasa wajib menterapkan asas bahwa pemenang pemilu, berhak meraup, memborong semua kursi trias politica. Tidak bisa dipungkiri, sistem multipartai memancing tindak serba multi, dalil politik saling silang hingga sampai pada asas adu téga. 

Tata niaga politik, proses hulu-hilir kian jelas “siapa dapat apa, siapa dapat berapa”. Kerena Rp, demi Rp, lagi-lagi Rp lagu wajib lawas teranyarkan.[HaéN]

indeks kadar sadar bernegara di kandang sendiri

indeks kadar sadar bernegara di kandang sendiri

Sejak perubahan kedua (tahun 2000) UUD NRI 1945, maka tersuratlah Pasal 28J:

Pasal 28J

(1)        Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 Bagaimana siratan, wujudan apalagi praktek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apa memang perlu pedoman atau NSPK berupa paket buku saku yang diperkuat secara yuridis formal oleh proses legislasi, kompromi politik.

 Runyam, panutan saja tidak ada. Apalagi pakai sebutan negarawan. Kalau ada, pihak mana yang cetak sertifikat. Masa berlaku maupun tarif cetak.

 Jangan tanya pola hierarki kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Memacu plus memicu ulang kasus SARA yang malah menjadi momentum penguasa unjuk gigi. Oleh karena itu, predikat melekat pada martabat penyelenggara negara, alat negara, aparatur sipil negara serta wilayah hukum bernegara. 

Sepertinya antara legitimasi berkeurusan jalannya sistem negara dengan cara cerdas menggulirkan sila-sila daripada dasar negara. Pasca periode langsung dibilang apa adanya vs ada apanya. [HaéN]

mengorganisir cikal bakal kejahatan diri

 mengorganisir cikal bakal kejahatan diri

 Negara maju di segala bidang berkemajuan. Unjuk gigi di panggung dunia dengan adab laku sesuai sentimen negatif pasar bebas. Eksistensi menentukan kedamain dunia hanya bisa dilacak dengan indikator negatif. Bentukan lain, kejahatan di dalam negerinya diorganisir sedemikian multimanfaat. Semacam ISIS bentukan rezim penguasa Amerika Serikat. Walhasil, ISIS menjadi senjata makan tuan, bumerang, balik arah.

 Tak terkecuali di tanah-air nusantara berpancasila. Semakin padi di tanam secara sporadis, sesuai perhitungan waktu lokal, tumbuh kembang aneka tanaman pengganggu. Tidak sekedar menumpang hidup layak. Ditambah pupuk impor, pestisida pabrikan negara sahabat menambah daerah operasional, ruang gerak dan wilayah hukum tanaman liar.

 Gali (gabungan anak liar) zaman penguasa tunggal Orde Baru. Berbau mitra usaha penguasa, tidak sekedar pengkotak-kotakan generaasi muda. Agar di bawah satu kendali mutu. Bisa mendapat jatah wakil rakyat. Loncat, lompat santai ke era rezim politik di bawah ketiak. Relawan politik digital, sigap perang udara 24 jam. Layak mendapat imbalan kursi birokrasi bersubsidi dimana saja, kapan saja.

 Mengacu dalil calistung. Bersambung . . . [HaéN]

Jumat, 28 Mei 2021

renung kedirian, temu kenali laku diri

renung kedirian, temu kenali laku diri

Ketika manusia mampu merasakan berfungsi terhadap diri sendiri selaku pribadi; bermanfaat atas rasa keakuan yang egois, sentris; berguna pada daya mandiri. Minimal pernah tahu-tahu tentang  prinsip, konsep, sistem diri.

 Namun status “tahu diri” tidak serta muncul di hati kecilnya. Itupun jika muncul masih perlu proses ikutan, lanjutan dan susulan. Jika tidak dijaga kenormalan maupun stabilitasnya, maka nilai diri ybs mudah bergeser ke strata manusia bebas. Ketidaktahuan tapi bukan kebodohan, keterbelakangan. Tahunya belakangan lebih beruntung ketimbang tahu-tahu terlambat hidup atau mati.

 Manusia dengan bakat kemanusiaan, mampu menjadikan dirinya menjadi manusia mulia sesuai fitrah-Nya. Daya guna akal sehat, akal cerdas, otak encer, ringan kepala, terang akal selaku indikator otak jalan merujuk batasan intelektual dan pada adab laku bicara, tindak tanduk, bahasa tubuh, ekspresi wajah teruji plus terpuji secara moralitas, normatif. 

Hakikat bermanusia dengas dalil “ukur baju sendiri” untuk evaluasi diri sejak dini, mawas diri status keseimbangan, stabilitas jiwa-raga. Dengan paham cacat diri. [HaéN]