Halaman

Kamis, 28 Juni 2018

Cerdas Ideologi vs Praktik Demokrasi


Cerdas Ideologi vs Praktik Demokrasi

Praktik demokrasi yang menghasilkan dalil: kedaulatan ada di tangan pemenang pesta demokrasi, bukan tanpa efek domino. Diperkuat dengan tindak laku garang garing penyelenggara negara yang untuk membuktikan kadar loyalitasnya, sekaligus unjuk gigi.  

Aneka ujaran lewat media sebagai propaganda pemerintah, menambah semarak dan hingat bingar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kebijakan penguasa untuk memanipulasi fakta lapangan, semisal impor beras.

Akhirnya modus politik penguasa menimbulkan alérgi, antipati, apriori, apatis bagi pihak tidak hanya koalisi parpol pendukung pemerintah. Pemerintah acap mati langkah, salah langkah serta asal gebrak.

Sifat kritis rakyat dicegah tangkal dengan pasal makar. Tak berlaku pada kelompok kriminal separatis bersenjata, dengan alasan HAM.

Salah satu efek domino praktik politik penguasa adalah pada daya nalar, olah akal, dan kadar logika pemilh pemula. Mahasiswa yang sedang memupuk jati dirinya, bisa belajar atau mempunyai acuan nyata. Mahasiswa mampu membaca situasi yang diciptakan pemerintah.

Wajar, kalau pemerintah untuk menjaga wibawa dalam negeri, niat tujuan mulia proaktif dengan mendata nomor ponsel dan akun media sosial mahasiswa. Mahasiswa non-aktivis, kutu buku bisa menjadi batu sandungan. Pokoknya, pemerintah tak mau kecolongan dan kehilangan muka. [HaèN]

3 paket puasa sunah serentak di satu hari, 14 Syawal 1439H


3 paket puasa sunah serentak di satu hari, 14 Syawal 1439H

Alhamdulillah, hari ini Kamis, 28 Juni 2018, menjadi hari bermakna bagi umat Islam. Bersamaan dengan 14 Syawal 1439H. khususnya yang melaksanakan ibadah puasa sunah. Karena terdapat:

Pertama. Niat puasa 6 (enam) hari di bulan syawal.
Kedua. Bagi yang terbiasa puasa senin-kamis.
Ketiga. Puasa tengah bulan tanggal 13, 14, 15 kalender Hijriyah.

Sekali lagi bersyukur. Jum’at 29 juni 2018 puasa syawal sekaligus puasa tengah bulan. Soal pahala dan amalan puasa, serahkan kepada-Nya. [HaèN]

reformasi dan cikal bakal rézim (partai) politik


reformasi dan cikal bakal rézim (partai) politik

Asumsi sederhana rakyat, yang namanya politik adalah asal sudah ada partai politik dan hidup. Punya bendera. Punya ‘kantor’ seklas balai warga atau di deretan ruko. Berbaur dengan aneka jasa.

Meningkat selapis, rakyat melihat manusia politik muncul di layar kaca. Tentunya bukan pada acara yang ditunggu-tunggu. Bukan bak goto-goro dalam pentas wayang kulit. Kendati rakyat dalam hati sudah maklum. Bahwa manusia politik adalah biangnya goro-goro, gonjang-ganjing, bencana politik yang berjilid. Belum tuntas satu periode sudah mau main di klas yang lebih tinggi.

Selain baju hijau yang sudah melekat di mata rakyat. Bertebaran sosok anak bangsa pribmu, bergaya dengan seragam ala militer.  Rakyat duga Indonesia selalu siaga. Merasa aman dan nyaman di jalan.

Kibaran bendera merah-putih, kalah seru dengan lambaian bendera aneka warna dan lambang partai politik.

Nasionalisme, heroisme, pancasilais manusia politik mengalahkan perjuangan para pahlawan pejuang bangsa.

Pemerintah 2014-2019 mengakui sambil tersenyum bangga, betapa kekayaan segelintir manusia dan atau orang super-kaya di Indonesia, bisa mengalahkan kekayaan segelontor rakyat.

Bisa terjadi, bunga per bulan kekayaan yang mengendap di bank dunia (maksudnya di bank mancanegara yang aman dan terpercaya), bisa untuk hidup sederhana versi mereka. Bahkan bisa sekecil gaji presiden RI.

Penyelenggara menjadi penentu nasib dan perjalanan hidup bangsa terutama rakyat Indonesia selama satu periode.

Asumsi sederhana reformasi dengan melihat Orde Lama dan Orde Baru sebagai rézim dengan seabrek kebobrokan moral politik. Padahal manusia politik dengan busana kebesaran parpol peninggalan zaman penjajah maupun parpol dadakan, sami mawon, untuk meraih, kejar urusan dan nikmat dunia.

Rézim berkonotosi negatif menjurus ke strata super-negatif. Kadar dan daya negatf jika ada rézim (partai) politik yang dengan asas mégatéga, ingin bercokol terus tanpa memperhatikan suasana kebatinan rakyat. Secara konstitusional masuk ranah zalim yang bebas dakwaan. Segala tindakan kebijakannya tidak bisa dipidana. Menjadi hukum tak tertulis. [HaèN]

Rabu, 27 Juni 2018

meluruskan yang bengkok vs membenarkan yang salah


meluruskan yang bengkok vs membenarkan yang salah

Aroma irama politik Nusantara bergerak bebas sampai pasar tradisional, Menjungkirbalikkan norma kehidupan di masyarakat. Dalih tradisi masyarakat lokal, miras oplosan yang acap minta korban, tetap bercokol dengan tenang.

Banjir akibat air hujan tak terserap bumi. Mengalami seleksi ketat untuk bisa masuk ke dalam lapisan bumi. Permukaan bumi yang sudah ditangani manusia, menjadi kedap air. Luas tanah rumah tinggal yang tersisa, semakin anti-air, agar tak becek.

Drainase kota, got sampai selokan, walau tetap ada di tempat namun tak berjalan sebagaimana rencana besar kepala daerah.

RTH utawa ruang terbuka hijau dimaknai jangan sampai pepohonan, hutan menutupi bumi. Sehingga perlu dibuka secara menerus. Hutan yang hijau perlu dibuka. Agar sinar matahari bisa menyapa hangat lapisan bumi.

Manajemen politik bukannya salah urusa atau salah konsep atau salah orang. GHBN diubah menjadi RPJMN. Tetap ada proyek abadi.

Ketika benar, baik, dan betul tergantung jumlah. Apa arti suara rakyat. Walau mayoritas namun kalah jumlah Rupiah, tetap kalah.

Persoalan bangsa dan negara nyaris tak akan berkesudahan. Efek domino dari daur ulang sejarah. Ingat judul ‘asu mbalèni piringé vs panguwasa mbélani kursiné’. Artinya, kawanan parpolis tidak ikhlas dengan jejak masa lampaunya. [HaèN]