Halaman

Senin, 30 Januari 2017

derita TKI dan martabat bangsa



derita TKI dan martabat bangsa

Isu aktual, faktual yang nyaris jadi santapan dan menu harian awak media massa dan tanpa solusi yang jitu adalah tayangan nasib dan derita anak bangsa yang mengadu nasib di negeri orang.

Adalah disebutkan resmi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau pekerja migran [migran adalah n orang (hewan) yg berpindah tempat tinggal (untuk sementara), Kamus Bahasa Indonesia, 2008], atau pekerja lintas batas negara. Lebih spesifik ada yang masuk kategori TKW (Tenaga Kerja Wanita).

Setiap periode pemerintah, seolah tak bisa lepas dari berita derita TKI dan khususnya TKI illegal. Betapa peduli pemerintah, selain ada K/L yang menangani, selalu siap dengan relawan jika ada kasus di luar negeri. Bahkan ada pejabat sipil maupun militer yang siap pasang badan jika ada yang mau menggoyang kemampanan TKI di negeri orang.

NKRI sebagai negara yang masih pada tahap berkembang, yang masih selalu meningkatkan kesejahteraan agar sesuai dengan negara di ASEAN. Aneka kasus dialami TKI di negeri atau tempat kerja. Tahu banyak kasus di hilir, namun di hulu masih saja ada kabupaten/kota yang siap memasok, mengirim, mensuplai, mengekspor calon TKI.

 Ironis binti tragis binti miris, arus calon TKI illegal seolah tak mau berhenti. Seolah “gugur satu, tumbuh muncul seribu”. Jangan mempersoalkan arus masuk TKA ke Indonesia, walau sama-sama mencari dan menjadi pekerja dalam bidang pekerjaan kasar, yang lebih mengandalkan tenaga, otot dan keringat.

NKRI sebagai negara multipartai bukannya tak ada yang peduli dengan nasib derita TKI, terlebih kandidat TKI yang masih aman-aman di tempat tinggalnya.

Jangan salah tempatkan penafsiran kalau masih ada TKI sebagai indicator kesejahteraan anak bangsa. Pemeritah sekarang dengan ramuan revolusi mental, sudah selalu siap mengdongkrak mental calon TKI agar mencari nafkah di kampung halaman sendiri. Jangan tergiur rumput tetangga lebih ranum, hijau dan subur. Hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan kata di negeri sendiri. [HaeN]

Minggu, 29 Januari 2017

laku jujur rakyat vs ujar nista pejabat



laku jujur rakyat vs ujar nista pejabat

Media massa atau apapun sebutan lainnya, dengan produk utama, produk unggulan, produk sampingan maupun produk buangan atau produk sampah, telah menjadi media – namanya juga media – atau alat oleh berbagai pihak.

Sebagai alat, ternyata ampuh di luar nalar si pengguna. Logika dasar memang tidak salah, yaitu kalau menulis berita akan akan berhenti pada pembaca. Zaman sekarang, pembaca yang cerdas, dengan serta merta tanpa pikir panjang menerima isi berita dengan yakin dan penuh kepercayaan. Dengan keyakinan tersebut, didukung kemajuan TIK, dengan ringan hati bersegera menyebarluaskan.

Secara singkat waktu, akhirnya subyek berita merasakan jasa dan manfaat media massa versi seperti itu. Ironis binti miris, media massa resmi, malah menjadi alat pembiak atau corong orang pemerintah. Katakan, penyelenggara negara, pejabat publik atau yang biasa disebut pejabat menganggap tampil di media massa menjadi multimanfaat. Bukan tampil pada suatu cara resmi saja, justru yang penting adalah ucap, ujar, umpat yang dibuat tampak terdengar cerdas, berani dan apa adanya.

Efek domino kehidupan politik di éra mégatéga terjadilah praktik peribahasa “sudah téga betulan, téga sekali tetap tidak kebagian”.

Di pihak yang empunya media massa atau sponsor, pemodal, bandar aneka ragam media massa, dengan sengaja malah menjadikan ladang bisnis. Anak bangsa yang merasa melek tekonologi, merasa bangga kalau punya andil, ambil peran dalam memperkeruh suasana batin bangsa dan rakyat Indonesia.

Jangan heran, nila sekarang bukan hanya setitik, setetes, tetapi sudah berbelanga-belanga. Mereka malah bangga pamer daya nilanya. Sekali berujar, muncul puluhan kasus. Sekali pidato resmi, hatinya puas meluap-luap, karena dampaknya membuat susah orang lain. Membuat banyak pihak sibuk, sehingga lupa eksistensi dan jati diri bangsa yang religius, agamis; yang berbudaya adiluhung. Prinsipnya sederhana, “Ora iso dadi presiden, ora opo-opo. Angger wong liyo, opo maneh sitok kuwi, ojo nganti dadi presiden. Awas nek nganti dadi presiden. Tak kandake bapakku”. Semacam drama anak SD. [HaeN]

menakar dan menalar efek domino politik transaksional 2014-2019



menakar dan menalar efek domino politik transaksional 2014-2019

Betul, politik transaksional adalah modus partai politik di pesta demokrasi lima tahunan. Transaksi atau jual beli, tawar menawar, dengan asas yang menjual tidak mau rugi dan yang membeli tidak mau tertipu. Membentuk kesepakatan yang tidak sepakat bulat, mengambang, sesuai perkembangan dan tuntutan zaman.

Ketika kepala daerah dan bahkan kepala negara dipilih langsung oleh rakyat, bukannya tanpa dampak. Kebebasan mendirikan partai politik yang semata untuk tujuan meraih kekuasaan secara kostitusional.

Praktik barter politik di negara multipartai NKRI menunjukkan serta mencapai puncak serakah politik di pilpres 2014. Sudah menjadi rahasia anak kemarin sore. Tidak layak, etis, elok untuk diperdebatkan.

Jujur saja, apa adanya menurut kacamata awam, semua gejolak politik sampai detik ini, kalau ditarik ke belakang, ternyata semakin terang-benderang ada politik di balik batu. Bukan kandidat capres dan cawapres yang bermain dan berlaga di lapangan. Tetapi ada pihak lain yang menentukan siapa yang akan main. Sederhana bukan. Bukan sekedar berkiblat, tetapi sudah ada tangan-tangan 3A (asing, aneh, ajaib) yang bermain di Nusantara. Tidak sekedar mengatur skore, tetapi sudah menentukan pemain.

Kalau mengacu kamus politik, entah versi mana, ujaran bahwa politik adalah kiat resmi meraih kekuasaan secara konstitusional. Diyakini memang perlu modal besar. Soal minim ide, gagasan untuk mensejahterakan bangsa, itu urusan nanti. Apalagi dengan rela hati melanjutkan pembangunan nasional yang belum optimal, yang sudah dilakukan oleh periode sebelumnya.

Bukti sederhana kalau pemerintah gemar bongkar pasang kebijakan, adalah adanya program/kegiatan yang sifat dadakan. Tidak mengakar pada RPJMN 2015-2019 atau yang dijabarkan dengan jargon Trisakti dan Nawacita serta dengan bumbu cita rasa revolusi mental. Antar oknum pembantu presiden saling unjuk gigi, pasang badan. Membuat kesibukan agar dilihat punya kinerja di atas rata-rata kawanan kabinet kerja. [HaeN]

Sabtu, 28 Januari 2017

Titik Kritis Dan Titik Balik Pergeseran Makna Azan



Titik Kritis Dan Titik Balik Pergeseran Makna Azan

Pertanda Zaman
Fiman Allah yang diabadikan dalam Al-Qur’an [QS Al Maa’idah (5) : 58] :  “Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”

Di zaman Rasulullah SAW saat dikumandangkan azan, ada pihak menjadikan azan sebagai ejekan dan permainan. Pihak saat itu tidak hanya orang atau oknum yang tidak menerima seruan menegakkan sholat, bahkan bisa datang dari suatu kaum atau bahkan bangsa.

Zaman sekarang, banyak pihak yang memanfaatkan gema azan bukan sebagai tanda pergantian waktu antar sholat atau tanda memasuki waktu sholat, bukan untuk bergegas sholat, khususnya di waktu pagi dan petang, tetapi untuk tanda atau fungsi lain.

Bagi manusia yang sibuk dengan urusan dunia untuk meraih sukses hidup, azan subuh sebagai tanda peringatan untuk bangun, bersiap berangkat kerja. Atau memperpanjang lelap, dengan dalih mengumpulkan enerji. Sholat subuh dilakukan sebelum berangkat kerja, dengan dalih lebih afdol sholat setelah bersih, kenyang dan siap kerja.  Azan ashar sebagai peringatan untuk mengurangi kecepatan kerja. Atau menambah enerji agar sampai ke azan isya. Peras keringat sesuai upah, patuh jam kerja, azan ashar sebagai tanda berhenti bekerja. Azan dhuhur sebagai tanda istirahat, di kantor sebagai tanda ishoma (istirahat, sholat, makan siang). Azan isya dinikmati di perjalanan pulang, sambil menikmati kemacetan.

Sholat berjama’ah di masjid, terasa berat, terlebih di waktu pagi dan waktu petang. Tersurat dalam [QS An Nuur (24) : 36] :  “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,”

Meraih Kemenangan
Setiap manusia wajib berusaha, namun jika mengacu lafadz Hayya 'alal falah dalam azan yang berarti "Mari meraih kemenangan", akan berubah pikiran. Lafadz tadi sesungguhnya sebagai seruan mengajak manusia menuju surga, karena keberuntungan, kemenangan, dan keselamatan hakiki adalah masuk surga dan selamat dari neraka. Selayaknya  manusia mengusahakan mendatangi masjid untuk shalat berjama'ah, atau minimal melakukan sholat berjama’ah di tempat kerja.

Kita wajib memahami bahwa sebelum memulai kewajiban panggilan profesi, mencari nafkah, menimba ilmu, atau aktivitas harian lainnya, hendaklah diawali dengan ibadah sholat (subuh). Setiap rokaat dalam sholat kita melakukan kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. Serta mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri. Memohon jalan yang lurus, yaitu dimudahkan dan dilancarkan segala urusannya.

Sebesar apapun usaha manusia, seolah tak mengenal waktu, jika tidak untuk niat beribadah akan sia-sia. Memurnikan niat dan tujuan untuk beribadah, akan menjadikan seseorang bekerja total. Karena, kalaupun kemudian usahanya mengalami kegagalan atau tak kunjung sukses, setidaknya sudah mengantongi bagian pahala dari Allah SWT.

Betapa banyak, manusia yang sukses mencapai tujuan hidupnya, meraih cita-citanya, mewujudkan impiannya, namun kesuksesan itu tidak banyak mendatangkan manfaat kepada manusia lain, bahkan tidak juga untuk dirinya sendiri. Kesuksesan yang tidak menuju ke kemaslahatan umat.

Diharapkan setiap kesuksesan akan menjadikan pemiliknya menjadi manusia yang semakin bermanfaat bagi orang lain serta semakin dekat dengan Allah. Kesuksesan diawali dengan menyebut nama Allah, memurnikan niat untuk ibadah, mencontoh yang terbaik (Rasulullah), serta mengawalinya dengan ibadah (sholat). Jika hal itu sudah dipenuhi maka akan terealisasi dengan bukti yang nyata (sukses), bahwa Islam itu rahmatan lil 'alamin. [HaeN]