Halaman

Minggu, 16 November 2014

CIDERA LUTUT vs CIDERA MULUT

Jumat, 26/12/2008 03:05

CIDERA LUTUT vs CIDERA MULUT
Olahragawan yang mengandalkan kaki untuk main, bisa absen tatkala cidera lutut atau cidera bagian kaki lainnya. Kalau dipaksakan, selain menambah parah, tidak bisa main optimal atau bahkan merugikan tim. Pemain profesional sekaliber di atas juara umum PON, jika cidera lutut atau anggota tubuh lainnya akan jadi santapan wartawan untuk diekspose. Wakil rakyat yang mengandalkan mulut untuk bekerja, jika cidera mulut bisa absen (tepatnya mangkir utawa bolos) sidang.

Hasil survey dan jajag pendapat mengapa anggota dewan berperilaku hindari sidang sewaktu masih bisa dihindari, dikarenakan uang sidang. Terdapat dua alasan utama :

Pertama, uang sidang dianggap tak sebanding dengan energi buka mulut dan debat adu pendapat (bukan pendapatan), argo jalan kencang, pendapatan jalan di tempat.


Kedua, uang sidang dengan tarif yang jelas dan pasti sudah diterima jauh hari sebelum sidang, karena sudah mufakat untuk sepakat dalam fraksi maupun komisi (hn). 

SEBAGAI PENYAMBUNG .............

Beranda » Berita » Opini
Kamis, 09/01/2003 15:55

SEBAGAI PENYAMBUNG ........

Jika RI 1 yang pertama dikenal sebagai Penyambung Lidah Rakyat, maka RI 1 kedua lebih tenar sebagai Penyambung Lidah Konglomerat. Penyambung Mata Teknologi tepat diterapkan pada RI 1 ke 3, tetapi kalau sebutan sebagai Penyambung Mata Kyai bagi RI 1 ke 4 agak kurang tepat, tetapi pas di mata hati.


Entah apa yang cocok sebutan bagi RI 1 kelima, asal jangan masuk kategori sebagai Penyambung Telinga Rakyat yang tak mempunyai kepekaan, kepedulian dan daya responsif terhadap kemampuan dan kemauan nyata rakyat Indonesia. (hn)

partai politik = mesin penyedot uang

Majalah MPR edisi no 06/tahun V/juni 2011
Beranda » Berita » Opini
Selasa, 31/05/2011 05:44

partai politik = mesin penyedot uang


Menyadari partai politik (parpol) bukan sebagai mesin pencetak uang, maka mulai dari pendiri, pembina, penasihat, petinggi, ketua umum, pengurus sampai kader parpol berupaya dengan legitimasi/legalisasi yang dimilikinya bisa menarik uang. Mulai menggalang dana masyarakat sampai ke menggali berbagai sumber dana dengan berbagai upaya/usaha.

Artinya, parpol memang bukan usaha yang bisa mendatangkan laba, bukan upaya produktif, bukan ikhtiar yang profitable. Bahkan, untuk mengurus dirinya sendiri, parpol mendapatkan bantuan keuangan dari APBN/APBN, yang diprioritaskan untuk melaksanakan pendidikan politik bagi anggota Partai Politik dan masyarakat ( UU 2/2011).

Untuk bisa menjadi parpol pemenang pesta demokrasi lima tahunan, tentunya butuh dukungan finansial yang seolah tak bisa diukur. Biaya kampanye, biaya beli suara, biaya jaga eksistensi, butuh rupiah dalam hitungan miliar. Dukungan keuangan dari perorangan maupun perusahaan, kendati ikhlas menurut hubungan tahu saling tahu, namun masih ada “udang di balik batu”. Pengusaha atau pemilik/pemodal berbagai perusahaan mempunyai kalkulasi matematis dalam menggelontorkan uangnya untuk menyumbang parpol. Sumbangan pengusaha merupakan umpan yang diharapkan imbalannya tidak hanya finansial, mengarah ke dukungan yuridis politis dari jagonya jika menang. Maka, terjadi hubungan yang saling menguntungkan antara parpol dengan pengusaha.

Kebutuhan dana tidak hanya dalam meraih kursi (khususnya di parlemen/ legislatif dan birokrasi) di tingkat nasional maupun daerah, tetapi juga bagaimana bisa bertahan hidup dalam periode lima tahun.Ironis memang. Parpol atau koalisi parpol yang jagonya menang dalam pemilukada gubernur ataupun walikota/bupati, tentunya berharap politik balas jasa.

Para parpolis/politikus/politisi mulai papan bawah sampai papan atas dalam menakar keberhasilan juangnya bukan pada apa yang telah dihasilkan dan bermanfaat bagi bangsa, negara dan rakyat, tetapi pada apa saja yang telah diraup dan diperolehnya selama ini. Pertimbangan ekonomi, sebanding tidak antara pengorbanan dengan perolehan, seimbang tidak antara modal yang disumbangkan dengan masukan yang ditampung.

Masuknya dedengkot parpolis/politikus/politisi melalui mekanisme pemilihan ke legislatif, eksekutif dan yudikatif, baik di tingkat pusat maupun daerah, tentunya membawa misi yang sangat beraneka ragam. Jadi, salah satu tolok ukur keberhasilan utawa kinerja perjuangan parpolis/politikus/politisi (akumulasinya merupakan kinerja partai politik) yaitu posisi apa saja yang telah diperolehnya serta seberapa besar perolehan akibat memanfaatkan posisi tsb.


Rakyat jangan bermimpi mengharapkan kinerja parpol dengan bukti berkurangnya rakyat miskin dan sekaligus berkurangnya orang kaya. Keterlibatan parpol dalam korupsi di Indonesia, jelas lebih maju selangkah dari pasal hukum. Korupsi dengan pelaku utama parpol bisa dari hulu hingga ke hilir (memberi peluang sekaligus sebagai pelaku), maupun sebagai pusaran korupsi (antar parpol jangan saling menjegal).[HaeN]

Sabtu, 15 November 2014

MANFAAT KUNKER

Beranda » Berita » Opini
Rabu, 11/05/2011 12:33
MANFAAT KUNKER


Manfaat kunker kawanan DPR ke manca negara tidak bisa langsung dirasakan. Tidak seperti mengunyah cabai rawit, langsung pedas dan megap-megap. Indikator manfaat adalah jika oknum DPR dalam tahun anggaran berikutnya menunjukkan kinerja yang meningkat. Tepatnya, dalam periode berikutnya, baik masih dalam parpol yang sama atau sudah ganti parpol, kinerja sebagai wakil rakyat dapat dipercaya. Masalah biaya, kalau dibanding dengan asas manfaat kunker, bisa diabaikan. Buat program kunker, minimal ke negara anggota ASEAN, atau negara tetangga. baru pada periode berikutnya meningkat ke negara maju [HaeN].

Indeks Kebebasan Pers di Indonesia Anjlok

Indeks Kebebasan Pers di Indonesia Anjlok

Posted by KabarNet pada 03/02/2012
Jakarta – KabarNet: Indeks Kebebasan Pers Indonesia kembali melorot jauh ke bawah. Untuk tahun 2011, Reporters Without Borders (RSF) meranking posisi Indonesia di posisi 146 dari 179 negara. Untuk dibandingkan, pada 2010, Indonesia berada di ranking 117 dan di 2009 di ranking 100.
“Di Indonesia, terjadi sebuah kekerasan bersenjata di Papua Barat, di mana setidaknya dua jurnalis terbunuh, lima diculik dan 18 dilukai di tahun 2011, adalah alasan utama jatuhnya posisi negeri ini ke 146. Proses hukum yang korup, mudah dipengaruhi politisi, kelompok penekan dan pemerintah yang berusaha mengontrol media dan internet telah menghambat perkembangan pers yang lebih bebas,” ujar RFS dalam siaran pers yang disiarkan Rabu, 25 Januari 2012.
Kesimpulan :
Media massa atau kawanan pers harus mengaca. Mereka belum melihat bagaimana dampak tayangan TV terhadap perikehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Acara dialog, diskusi dan debat di TV melebihi pengadilan hukum.
Bencana nasional yang terjadi dari bencana politik, bencana sosial, bencana lingkungan, bencana ekonomi yang notabene akibat kesalahan manusia – dikemas, diolah dan disajikan untuk menaikkan peringkat TV swasta nasional. Para oknum pembawa acara (host) merasa dirinya pintar, merasa bisa menganalisa masalah. Padahal analisa atau pertanyaannya : standar dan tipikal, tidak terstruktur, asal cuap dan ucap, tidak menyelesaikan masalah, tendensius dan tidak netral, tidak menyentuh substansi dan akar masalah, yang penting ada sponsor atau pariwara, masuk kategori pamer bego.
“Kenetralan” media masa atau kawanan pers adalah tidak berpihak pada nurani dan itikad baik; tidak berorientasi pada penyejukan dan pencerahan rakyat; tidak berpijak pada asas bebas kata demi kemaslahatan umat; tidak mengedepankan rasa persatuan dan kesatuan bangsa; tidak mengutamakan kondisi yang faktual dan aktual. [KbrNet/Herwin Nur]

amien rais tim sukses gusur lumpur lapindo

Beranda » Berita » Opini
Kamis, 07/09/2006 07:19

amien rais, tim sukses gusur lumpur lapindo
Kita dukung itikad dan niat baik mister amien rais, mantan komandan MPR, untuk berjibaku mengatasi masalah pelimpahan semburan, luapan, luberan lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 29 Mei 2006.


Bekal ilmu, teori dan pengalaman oknum reformis tsb diharapkan dengan nyata mampu menyejahterakan rakyat OTD. jadi tunggu apa lagi!!! tak perlu mendirikan parpol baru untuk mendukung amal baktinya!!! Sejarah akan mencatat, bahwa ternyata secara politis sang amien rais bermanfaat bagi sesama manusia. (hn)

PULAU AMBALAT vs JAGO KANDANG

Kamis, 10/03/2005 08:38

PULAU AMBALAT vs JAGO KANDANG


Tsunami, sisi lain menunjukkan masih adanya rasa kesetiakawanan sosial bangsa dan rakyat NKRI. Mangsa tsunami (bahasa Malaysia) sebagai pemacu dan pemicu uluran tangan Sinterklas. Termasuk aroma korupsi di barak pengungsi. Belum reda derita Tsunami, yang menyebabkan tertundanya kenaikan harga BBM, mencuat kasus perbatasan dengan negaranya Abah Badawi. Budak Melayu bersyukur bukan rekayasa Babah Badawi atau Tauke Badawi. Sengketa cikal bakal BBM di kawasan pulau Ambalat bukan sekedar uji nyali. (hn)