Halaman

Sabtu, 01 Februari 2020

salah kedadèn vs tiwas dandan


salah kedadèn vs tiwas dandan

Rentang, bentang waktu jangan diasumsikan dengan sifat elastisitas. Satuan waktu terkecil berlaku di semua titik, sudut di permukaan bumi. Soal beda ketinggian secara ekstrem, atau kian menjauh dari bumi, waktu apa yang berlaku.

Apalagi menjauh dari kolaborasi trio bumi – matahari – rembulan. Apa jadinya jika manusia dipindahtempatkan ke titik koordinat di belahan bumi lainnya. Beda 1800. Dalam waktu sekejap mata. Pengalaman atau rekam jejak yang bagaimana terserap saat lelap malam.

Isra’ Mi’raj nabi Muhammad saw memang sulit dicerna akal manusia. Kecepatan cahaya bisa dianalisa. Kecepatan suara juga sudah bisa dirumuskan. Jangan coba-coba menganalisa kecepatan doa manusia kepada Allah swt.

Ridho dengan segala raihan hari ini. Soal esok hari bukan hak milik kita, menjadi bagian dari perkara yang ghaib. Manusia tetap wajib merencanakan masa depan anak keturunannya. Allah swt menjadikan dunia sebagai tempat mencari (hasil) yang baik yaitu kebahagiaan di akhirat. [HaéN]

115 juta atau 45% rakyat Indonesia siap miskin kembali


115 juta atau 45% rakyat Indonesia siap miskin kembali


Tanggal  30/01/2020. Dengan judul:
Bank Dunia 115 Juta Masyarakat Indonesia Rentan Kembali Miskin
JAKARTA — 
Berdasarkan laporan dari Bank Dunia yang berjudul "Aspiring Indonesia, Expanding the Middle Class" disebutkan bahwa sebanyak 115 juta atau 45 persen masyarakat Indonesia berpotensi menjadi miskin kembali. Mereka ini adalah orang yang telah keluar dari kemiskinan tetapi belum mencapai tingkat ekonomi yang aman.

. . . . .

Bank Dunia mencatat, selama 15 tahun terakhir, Indonesia sudah membuat kemajuan pesat dalam mengurangi tingkat kemiskinan, khususnya periode 2014-2019. Angka kemiskinan menjadi angka "single digit".  Indonesia juga mengalami pertumbuhan kelas menengahnya dari 7% menjadi 20% dari total penduduk yaitu sebanyak 52 juta orang.

Disebutkan bahwa sebanyak 115 juta atau 45% masyarakat Indonesia berpotensi menjadi miskin kembali. Mereka ini adalah orang yang telah keluar dari kemiskinan tetapi belum mencapai tingkat ekonomi yang aman. Terlebih jika RI menggunakan kriteria Bank Dunia membagi kelompok penduduk menjadi tiga bagian besar, yaitu 40% terbawah, 40% menengah, dan 20% teratas.

Kendati secara politis, asumsi pemain lama, muka lama rakyat miskin kembali 115 juta otomatis menjadi obyek parpol wong-cilik. Kalkulasi politik yang menguntungkan untuk laga di pilpres 2024. Syarat utama ajukan ULN. Atau menjadi gadis seksi plus pingitan, menarik niat baik investor global.

Struktur kemiskinan identik dengan sinergitas negara multipartai. Kantong kemiskinan tak beda jauh dengan karakter dapil. Jangan lupa, demi menjaga wibawa (kepala) negara, frasa ‘rakyat miskin’ diubah menjadi ‘masyarakat belum beruntung’. Senafas dengan sebutan negara berkembang.  Siapa nyana, periode ini mereka akan tergembleng, menjadi berketahanan alias ridho dengan nasib diri.  [HaéN]

Membaca Peluang Pasar LPG 3 kg Khusus Orang Miskin


Membaca Peluang Pasar LPG 3 kg Khusus Orang Miskin

Bermula dari Pasal 33 ayat (3) UUD NRI 1945: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Praktiknya memakai bahasa ekonomi, pendekatan ekonomi komersial. Ambil contoh santai, Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg atau dikenal dengan sebutan LPG melon. Penguasaan negara termasuk penetapan harga jual. Termasuk besaran subsidi ter tahun anggaran.

Bank Dunia mencatat, selama 15 tahun terakhir, Indonesia sudah membuat kemajuan pesat dalam mengurangi tingkat kemiskinan, khususnya periode 2014-2019. Angka kemiskinan mencapai angka "single digit".  Indonesia juga mengalami pertumbuhan kelas menengahnya dari 7% menjadi 20% dari total penduduk yaitu sebanyak 52 juta orang.

Disebutkan bahwa sebanyak 115 juta atau 45% masyarakat Indonesia berpotensi menjadi miskin kembali. Mereka ini adalah orang yang telah keluar dari kemiskinan tetapi belum mencapai tingkat ekonomi yang aman. Terlebih jika RI menggunakan kriteria Bank Dunia membagi kelompok penduduk menjadi tiga bagian besar, yaitu 40 persen terbawah, 40 persen menengah, dan 20 persen teratas.

Secara awam, jika subsidi LPG 3 kg buat 115 juta rakyat bisa membuat tekor APBN. Kendati secara politis, asumsi cikal bakal rakyat miskin 115 juta otomatis menjadi subyek parpol wong-cilik. Kalkulasi politik yang menguntungkan untuk laga di pilpres 2024.

Strategi jeli pemerintah dengan hukum semakin mudah investor masuk nusantara akan berbanding lurus dengan perluasan, pertambahan lapangan kerja. Lagi-lagi, seolah-olah membuka peluang tenaga kerja Indonesia untuk jangan mau miskin lagi. Beralih ke frasa ‘menjadi penonton di negeri sendiri’. [HaéN]

kasih Ibu Pertiwi tak berharap kursi


kasih Ibu Pertiwi tak berharap kursi

Lagu nasional sampai tembang lokal. Peribahasa Indonesia hingga pepatah bahasa daerah, saling berlomba mengkisahkan aneka tema kasih sayang ibu-bapak. Nada heroisme, patriotisme berjilid hingga irama melankolis bersendu-sendu.

Nusantara menyebutkan dirinya Ibu Pertiwi. Tanah-airku Indonesia. Apa arti nama di balik jasa ibu. Hari pahlawan berbasis jasa ibu, perjuangan kaum perempuan, prestasi kalangan hawa, maupun kepedulian kelompok wanita.

Tapi apa kata. Berkat pasar bebas global, sarat kompetisi maka  disyaratkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, baik tua maupun muda. Ingat kompetensi. Dijabarkan menjadi keterwakilan perempuan di rimba politik nusantara. Dalih berdasarkan dalil ‘dari tulang rusuk menjadi tulang punggung’.

Tidak sekedar peran konco wingking, konco buri. 

Jangan sampai ‘ngajak garwo menyang neroko’. Manipulasi garis tangan, bangsa bisa jadi korban. Salah kedadèn. [HaéN]

reformulasi adab generasi nusantara


reformulasi adab generasi nusantara

Makna bahwasanya sejarah akan berulang, tergantung niat baik penafsirnya. Mulai dari angka nol, bisa berarti netral atau belum dan atau tidak mempunyai sikap. Hingga skala heboh lokal.

Karakter utama makanya nusantara betah dengan status statis negara kerkembang. Kawanan, kelompok anak bangsa tak salah ingat sejarah. Tapi bukan untuk membanggakan jasa leluhur. Hidup dari sejarah masa lalu. Sampai tak sempat membuat sejarah masa depan.

Sejarah sebagai catatan, acuan, pedoman untuk melacak, mencetak jejak adab sejarah generasi pemilik abad selanjutnya.

Cikal bakal generasi seolah sejak dini dibiarkan mencari jati diri. Penguasaan informasi atau jasa produk TIK menjadi pemacu dan pemicu saraf kebangkitan nasional plus sumpah generasi teranyarkan.

Masalah sederhana sampai kapan kita berkutat dengan warisan kekuasaan. [HaéN]